MEMO – Wacana pembentukan lembaga pinjaman pendidikan menuai kritik tajam dari pengamat pendidikan, Asep Sapa’at. Ia menilai bahwa ide tersebut justru mencerminkan ketidakmampuan negara dalam menjamin akses pendidikan yang terjangkau bagi seluruh rakyatnya. Menurutnya, negara seharusnya hadir sebagai penjamin utama pendidikan murah dan berkualitas.
“Pemerintah sebaiknya mengalihkan anggaran yang tidak efektif untuk mendukung pendidikan yang terjangkau dan berkualitas,” ujar Asep dalam perbincangan dengan Pro3 RRI, Selasa (19/3/2025). Ia menambahkan bahwa kelompok menengah seringkali terabaikan dalam skema bantuan pendidikan pemerintah.
Selama ini, bantuan pendidikan lebih banyak menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, sementara kelas menengah harus berjuang memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan. Asep berpendapat bahwa kelompok menengah juga berhak mendapatkan jaminan akses pendidikan tanpa harus terbebani pinjaman.
Asep khawatir bahwa skema pinjaman pendidikan justru akan menambah beban finansial mahasiswa, meskipun pembayaran dirancang fleksibel. Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan skema crowdfunding atau dana abadi pendidikan sebagai alternatif solusi.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
“Crowdfunding dinilai lebih humanis karena mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam membantu pendidikan generasi muda,” kata Asep. Dana yang terkumpul akan dikelola secara profesional agar terus berkembang dan menjamin keberlangsungan program pendidikan.
Asep mencontohkan sistem pendidikan di India, di mana negara menjamin semua anak bisa kuliah tanpa harus terikat pinjaman. Di sana, mahasiswa mendapatkan kesempatan magang dan gaji sejak masa kuliah, sehingga mampu membiayai pendidikan mereka sendiri.
Menurut Asep, Indonesia bisa meniru sistem tersebut dengan membangun kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan industri. Dengan demikian, mahasiswa akan mendapatkan keterampilan dan penghasilan yang memadai, tanpa harus terjebak dalam utang pendidikan setelah lulus.












