Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
inspirasi

Siapa Sangka Cacing Bisa Jadi Pahlawan Ekonomi

Avatar
×

Siapa Sangka Cacing Bisa Jadi Pahlawan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Siapa sangka, makhluk kecil yang seringkali dianggap sebelah mata dan bahkan memicu rasa jijik, ternyata menyimpan segudang kejutan? Ya, cacing, hewan yang kerap diasosiasikan dengan kotoran dan penyakit, menyimpan fakta unik dan potensi ekonomi yang luar biasa dahsyat.

Mungkin selama ini kita hanya mengenal cacing tanah yang berjasa menyuburkan tanah. Namun, tahukah Anda bahwa cacing tanah dan juga cacing laut memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia? Bahkan, cacing menyimpan kekayaan spesies yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan perekonomian.

Baca Juga: JUMAT BERSIH SMPN 1 Grogol Libatkan Seluruh Warga Sekolah

Fakta menarik ini diungkap oleh Joko Pamungkas, seorang Peneliti Ahli Utama dari BRIN, dalam sebuah acara bertajuk Season of Sharing. Beliau memaparkan betapa uniknya dunia cacing serta perannya yang signifikan dalam ranah sains dan ekonomi.

“Mari kita awali petualangan kita di kingdom Animalia, atau kerajaan hewan,” buka Joko. Ia menjelaskan bahwa kerajaan hewan ini terdiri dari sekitar 30 filum, dan sebagian besar anggotanya adalah invertebrata atau hewan tanpa tulang belakang.

Baca Juga: Syawalan 1447 H di Ponpes Wali Barokah, Dandim 0809/Kediri Pesankan Ini

Sebuah fakta mencengangkan terungkap bahwa sekitar 95 persen hewan di dunia ini adalah invertebrata, sementara hanya 5 persen saja yang merupakan vertebrata. Hal ini menunjukkan betapa dominannya kelompok invertebrata, termasuk cacing, di planet kita.

Lebih lanjut, Joko mengungkapkan bahwa hampir separuh dari 30 filum hewan yang ada adalah kelompok cacing. Tiga kelompok cacing yang paling familiar di telinga kita adalah Annelida, Nematoda, dan Platyhelminthes.

Baca Juga: Silaturahmi Syawal 1447 H Ponpes Wali Barokah Giliran Dikunjungi Mbak Wali dan Wawali Kota Kediri, Begini Keseruannya,,,

Annelida, dengan contoh terkenalnya yaitu cacing tanah, memiliki sekitar 22.000 spesies. Sementara itu, Nematoda memegang rekor dengan jumlah spesies terbanyak, yaitu sekitar 28.500 spesies. Platyhelminthes memiliki sekitar 20.000 spesies. Namun, tahukah Anda bahwa masih ada 11 filum cacing lainnya yang belum banyak dieksplorasi? Joko menambahkan bahwa sebagian dari kelompok Nematoda dan Platyhelminthes bersifat parasit pada manusia.

Mungkin Anda ingat saat kecil diberi obat cacing? Obat tersebut bertujuan untuk membasmi parasit dari kelompok ini yang bisa bersarang di tubuh kita. Cacing-cacing parasit ini bisa ditemukan di berbagai tempat, mulai dari tanah, daging babi, daging sapi, hingga keong.

Joko kemudian menjelaskan ciri khas morfologi dari ketiga filum cacing tersebut. Annelida memiliki tubuh yang tersusun dari segmen-segmen, Nematoda berbentuk bulat panjang atau gilig, sedangkan Platyhelminthes memiliki tubuh yang pipih.

Filum Annelida sendiri terbagi lagi menjadi dua kelas utama, yaitu Clitellata dan Polychaeta. Clitellata mencakup subkelas Hirudinea (lintah) dan Oligochaeta (cacing tanah). Sementara itu, Polychaeta adalah kelompok cacing yang memiliki rambut-rambut halus di tubuhnya dan lebih banyak ditemukan di perairan payau dan laut. Polychaeta terbagi lagi menjadi tiga subkelas, yaitu Errantia, Sedentaria, dan Echiura.

Echiura dulunya sempat membingungkan para ilmuwan, namun kini telah diklasifikasikan sebagai bagian dari Polychaeta. “Lalu, apa yang membuat Polychaeta ini begitu unik?” tanya Joko, membangkitkan rasa ingin tahu para peserta.

Ternyata, cacing Polychaeta memiliki morfologi yang sangat cantik dan sering ditemukan di perairan yang jernih, seperti di sekitar terumbu karang. Contohnya adalah cacing pohon natal dan cacing kipas, yang menjadi penghias indah habitat terumbu karang.

“Keunikan Polychaeta juga terletak pada variasi morfologinya yang luar biasa,” lanjut Joko. Beberapa jenis cacing ini bahkan memiliki bentuk yang menyerupai ikan, naga, atau tikus laut.

Tak hanya itu, cacing Polychaeta juga bisa tumbuh hingga mencapai panjang yang mencengangkan, yaitu hingga tiga meter! Contohnya adalah cacing bobbit yang dikenal sebagai predator bagi ikan dan gurita.

Joko juga mengungkapkan kemampuan adaptasi cacing yang luar biasa, di mana mereka bisa hidup di habitat ekstrem seperti ventilasi hidrotermal di laut dalam. Bahkan, ada jenis cacing yang bentuknya mirip lipstik yang mampu bertahan hidup di suhu panas hingga 400 derajat Celsius.

Bagaimana bisa? Ternyata, cacing ini menjalin simbiosis dengan bakteri untuk mendapatkan makanan, karena mereka tidak memiliki saluran pencernaan. Di Indonesia sendiri, beberapa jenis cacing Polychaeta ternyata menjadi bagian dari kuliner lokal, contohnya adalah cacing laor di Ambon.

Cacing laor menjadi istimewa karena kandungan proteinnya yang tinggi, yang disebabkan karena mereka sedang dalam masa perkawinan massal. “Yang dikonsumsi sebenarnya adalah sel kelamin cacing, bukan dagingnya,” jelas Joko.

Ada juga cacing laut jenis Odontosyllis enopla yang muncul dalam jumlah besar saat musim reproduksi. Mereka mengeluarkan senyawa lusiferin yang membuat tubuhnya memancarkan cahaya hijau yang indah.

Fenomena ini dikenal sebagai marine bioluminescence, yang mampu memukau para wisatawan. Bahkan, pada zaman dahulu, Christopher Columbus pernah mencatat adanya cahaya di air laut yang menyerupai lilin.

Fenomena bioluminescence ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan malam yang magis di pantai. “Jadi, Polychaeta ini adalah cacing yang bisa menghasilkan cuan,” tegas Joko.

Berbeda dengan cacing parasit yang seringkali merugikan, Polychaeta justru memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Contohnya, spesies Alitta virens dibudidayakan di Inggris dan Belanda untuk diekspor sebagai umpan pancing.

Di Indonesia sendiri, beberapa jenis seperti Perinereis aibuhitensis dan Diopatra claparedii juga dimanfaatkan sebagai umpan pancing. Bahkan, Perinereis nuntia digunakan sebagai pakan induk udang kaki putih dalam budidaya.

Tak hanya itu, Polychaeta juga memiliki peran penting sebagai bioindikator pencemaran perairan. Contohnya, Capitella capitata menjadi indikator pencemaran bahan organik di wilayah subtropis.

Di Ambon, Capitella ambonensis juga digunakan sebagai bioindikator pencemaran. Sementara itu, D. claparedii memiliki kemampuan mengakumulasi logam berat, sehingga dapat menjadi indikator adanya pencemaran logam berat di suatu perairan.

Joko menyebutkan bahwa ada sekitar 12.000 jenis Polychaeta yang tersebar di seluruh dunia. Namun, sayangnya, kontribusi Indonesia terhadap angka tersebut masih sangat kecil, yaitu hanya sekitar 300 jenis saja yang tercatat.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar spesimen Polychaeta dari Indonesia justru tersimpan di luar negeri, terutama di Belanda. “Koleksi di Museum Zoologicum Bogoriense hanya sekitar 300 spesimen,” ungkapnya.

Minimnya penelitian taksonomi mengenai Polychaeta menjadi tantangan besar di Indonesia. Apalagi, Joko saat ini menjadi satu-satunya ilmuwan Indonesia yang secara khusus mendalami taksonomi Polychaeta. Dengan semangat yang membara, ia bertekad untuk mengungkap keanekaragaman biota laut Indonesia, khususnya Polychaeta, beserta potensi yang terkandung di dalamnya secara menyeluruh.