Example floating
Example floating
Humaniora

9 Tradisi dan Kegiatan Rutin Sebelum Puasa Menyambut Bulan Ramadhan

A. Daroini
×

9 Tradisi dan Kegiatan Rutin Sebelum Puasa Menyambut Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini
9 Tradisi dan Kegiatan Rutin Sebelum Puasa Menyambut Bulan Ramadhan

Seminggu lagi, bulan Ramadhan datang. Bulan yang sangat ditunggu oleh setiap muslim. Terutama terkait dengan amalan dan ibadah yang sangat ditunggu karena tingkat keutamaan dan kemulyaannya.

Siapa saja yang menunggu datangnya bulan Ramadhan tersebut ? Tentu saja kedatangan buklan suci Ramadhan ditunggu oleh ummat Islam seluruh dunia. Bulan Ramadhan, dianggap bulan suci dan bulan mulia, sehingga kesempatan te5rsebut tidak pernah diabaikan oleh semua kaum muslim dunia.

Baca Juga: Kisah Mariana, Setia Meracik Kehangatan Tradisi di Tengah Himpitan Ekonomi dan Perubahan Selera

Caranya, beragam. Masing masing negara , baik negara muslim maupun non muslim, memiliki tradsi dalam menyambut bulan suci Ramdahan. Di Indonesia, yang masyarakatnya sangat plural dan memiliki tradisi leluhur, juga memiliki tradisi yang unik.

Ini Kegiatan dan Tradisi Unik Yang Selalu Dilakukan Muslim Indonesia Sebelum Bulan Puasa

Berikut ini, 8 Tradisi Unik Yang Selalu Dilakukan Muslim Indonesia Sebelum Bulan Suci Ramdhan, diantaranya adalah sebagaiberikut :

Baca Juga: Sebelum Darwin, Ini Sosok Ilmuwan Muslim Yang Menemukan Teori Evolusi

1. Tradisi Megengan

Tradisi ini berjalan di jaman kerajaan Jawa, khususnya raja raja kesultanan, ketika menyambut bulan puasa. Namanya megengan. Dalam bahasa Jawa megengan berarti menahan. Tradisi ini, mayoritas dilakukkan oleh ummat Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang bulan Ramadan. Tradisi ini merupakan perpaduan budaya Jawa dan Islam.
Ciri khas Mengadakan doa bersama dan tahlilan, Membagikan nasi berkat dan kue apem, Mengumpulkan makanan di satu tempat, Mengadakan kenduri atau selamatan

Baca Juga: Dari Blitar Berprestasi, Kini Muklisin Buka Babak Baru Kolaborasi di Banyuwangi

1.Tradisi Nyorog

Ini traduisi masyarakat Betawi. Tradisi Nyorog adalah salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Betawi di Jakarta untuk menyambut bulan suci Ramadan. Dalam tradisi ini, masyarakat mengirimkan bingkisan makanan kepada orang tua, mertua, atau tokoh masyarakat yang lebih tua sebagai wujud penghormatan yang mendalam,

Tradisi Nyorog bukan hanya sekadar berbagi makanan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan menjalin kedekatan dengan tetangga. Keluarga yang tinggal jauh dari orang tua atau sudah hidup terpisah akan mengirimkan makanan khas Betawi sebagai simbol kasih sayang dan perhatian.

Dengan demikian, tradisi Nyorog menjadi salah satu cara masyarakat Betawi untuk mempersiapkan diri secara spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh kebersamaan.

3. Tradisi Cucurak

Tradisi ini dilakukan di Jawa Barat. Tradisi Cucurak atau dalam bahasa Sunda diartikan sebagai bersenang-senang dan berkumpul bersama keluarga besar dalam menyambut bulan suci Ramadan. Selain berkumpul, tradisi Cucurak biasanya diisi dengan makan bersama beralas daun pisang sambil duduk lesehan. Menu yang disajikan mulai dari nasi liwet, tempe, ikan asin, serta sambal dan lalapan.

Menurut kepercayaan masyarakat Sunda, tradisi Cucurak tidak hanya sebagai kegiatan kumpul-kumpul dan makan bersama saja. Tapi menjadi momen silaturahmi dan ajakan untuk saling bersyukur atas segala rezeki yang diberikan oleh Tuhan.

4. Tradisi Padusan

Bagi orang Yogjakarta, tradisi padusan sudah tidak asing lagi. Tradisi ini masih dilakukkan oleh mayoritas masyarakat di daerah istimewa Jogjakarta, oleh sebagian besar masyarakatnya.

Masyarakat Yogyakarta turut memiliki tradisi dalam menyambut Ramadan yang masih dilakukan hingga sekarang. Namanya adalah Padusan, atau dalam bahasa Jawa diartikan dengan padus (mandi).

Padusan dilakukan sebagai bentuk penyucian diri, sekaligus membersihkan jiwa dan raga dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Jika ditelaah lebih dalam,

Padusan juga bisa diartikan sebagai momen untuk merenung dan intropeksi diri atas kesalahan yang pernah diperbuat. Sehingga, umat Islam bisa menjalankan ibadah dalam kondisi suci lahir dan batin.

5. Tradisi Marpangir

Sama di Jawa, di Pulau Sumatra juga memiliki tradisi unik dalam menyambut bukan puasa. Beberapa daerah di Sumatra Utara memiliki tradisi menyambut Ramadan yang dikenal dengan Marpangir.

Tradisi mandi secara tradisional menggunakan dedaunan atau rempah. Seperti daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi, dan bunga pinang sebagai wewangian.

Tradisi Marpangir dilakukan masyarakat Sumatra Utara sebagai bentuk membersihkan diri sebelum masuk bulan Ramadan.

6. Tradisi Malamang

Trtadisi ini berada di Sumatra Barat. Ummat muslim dan sebagian besar masyarakat lokal akan melakukan Malamang sebagai tradisi menyambut Ramadan . Tradisi yang sudah berjalan bertahun tahun itu dilakukkan dengan penuh suka cita.

Tradisi Malamang dilakukan dengan membuat makanan tradisional lemang. Di balik kesederhanaan makanan tersebut, tradisi Malamang dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan antar masyarakat Minangkabau.

7. Tradisi Meugang

Satu lagi tradisi menyambut bulan Ramadhan di Indonesia. Namanya Meugang. Tradisi Meugang atau disebut juga tradisi Haghi Mamagang. Sebuah tradisi menyambut Ramadan yang sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, atau sudah berlangsung sejak abad ke-14.

Tradisi Meugang diisi dengan kegiatan memasak daging sapi, kambing, atau kerbau sehari sebelum bulan Ramadan. Olahan daging tersebut disantap bersama dengan seluruh anggota keluarga, kerabat, atau yatim piatu.
Selain dilakukan saat menyambut Ramadan, tradisi Meugang juga dilaksanakan saat menyambut Iduladha dan Idulfitri.

8. Tradisi Mattunu Solong

Di Pulau Sulawesi, khususnya di Sulawesi Barat, masyarakat muslim menyambut datangnya bulan puasa dengan tradisi Mattunu Solong. Tradisi unik untuk menyambut bulan suci yang dilakukan masyarakat Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Tradisi menyambut Ramadan ini dilakukan dengan menyalakan pelita tradisional yang terbuat dari buah kemiri dan ditumpuk dengan kapuk, lalu dililitkan pada potongan bambu. Pelita tersebut ditempel di pagar, halaman, anak tangga, pintu masuk, hingga dapur.

Tradisi Mattunu Solong bertujuan mendapatkan keberkahan dari Sang Pencipta dalam menyambut bulan suci Ramadan. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai permohonan kepada Tuhan yang Maha Esa agar senantiasa memberikan kesehatan dan umur panjang, sehingga bisa menunaikan ibadah puasa dengan lancar.

9. Tradisi Megibung

Tradisi ini hanya ada di Pulau Bali. Khususnya masyarakat muslim di Kabupaten Karangasem. Umat Muslim yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali juga memiliki tradisi menyambut Ramadan yang dinamakan dengan Megibung.

Tradisi Megibung dilakukan dengan kegiatan memasak dan makan bersama sambil duduk melingkar.

Uniknya, tradisi Megibung memiliki tata penataan makanan yang unik. Nasi akan diletakkan di wadah yang disebut dengan gibungan. Sedangkan, lauknya disajikan di sebuah alas karangan. Menurut kepercayaan, tradisi Megibung merupakan bentuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan

Demikian tradisi yang dilakukan mayoritas ummat muslim Indonesia yang masih menjadi kepercayaan berbagai tempat dan pulau yang berada di nusantara.