Sebelum Darwin, Ini Sosok Ilmuwan Muslim Yang Menemukan Teori Evolusi

Ilmuwan Muslim Yang Menemuka Teori Evolusi

Teori evolusi adalah ilmu yang mempelajari perubahan makhluk hidup dari waktu ke waktu, yang pertama kali diungkapkan oleh seorang ilmuwan asal Inggris bernama Charles Darwin. Karyanya yang fenomenal, “On the Origin of Species”, diterbitkan pada 24 November 1859 dan menjadi karya penting yang mengubah pandangan dunia tentang keberadaan makhluk hidup.

Namun, sebelum Darwin, pemikiran tentang evolusi telah muncul jauh sebelumnya. Sekitar seribu tahun sebelumnya, seorang filsuf Muslim yang tinggal di Irak bernama Al Jahiz telah menulis sebuah buku tentang proses evolusi binatang.

Bacaan Lainnya

Al Jahiz dianggap sebagai ahli biologi Muslim pertama yang mengembangkan teori tentang evolusi. Dia menulis tentang pengaruh lingkungan terhadap peluang kelangsungan hidup hewan, dan mengamati serta dengan hati-hati menggambarkan perjuangan nyata untuk keberadaan di antara semua spesies.

Tulisan ini menjadi karya penting dalam sejarah pemikiran manusia tentang evolusi makhluk hidup.

Kitab Al Hayawan, Al Jahiz Temukan Teori Evolusi Mirip Darwin

Al Jahiz, seorang filsuf Muslim yang hidup di Irak pada abad ke-9, sebenarnya bernama Abu Usman Amr Bahr Alkanani Al Bisri. Namun, ia lebih dikenal sebagai Al Jahiz, yang secara harfiah berarti ‘seseorang dengan bola mata yang nyaris copot’.

Meskipun bukan sebutan yang paling ramah, namun Al Jahiz tetap terkenal atas bukunya yang berpengaruh, Kitab Al Hayawan (Buku tentang Binatang).

Al Jahiz lahir pada tahun 776 Masehi di Kota Basra, Irak bagian selatan. Saat itu, gerakan Mutazilah yang lebih mengutamakan akal ketimbang tradisi sedang berkembang di Basra.

Pada saat itu, Basra berada di bawah kekuasaan khalifah Abbasid, di mana karya ilmiah berbahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Polemik tentang agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat yang terjadi pada era tersebut membentuk pola pikir Al Jahiz dan belakangan membantunya mengembangkan gagasan ilmiah. Penyebaran kertas oleh saudagar China juga ikut mendorong penyebaran gagasan tersebut.

Sebagai seorang yang memiliki ketertarikan pada berbagai bidang, Al Jahiz menulis 200 buku selama hidupnya, namun hanya satu pertiga di antaranya yang dapat kita baca sekarang.

Pos terkait