Papua Nugini mendapat protes dari pihak China akibat kerusuhan yang terjadi di negara tersebut, khususnya yang menyasar pertokoan milik warga Tiongkok. Kementerian Luar Negeri China telah menyampaikan keluhan ini melalui Kedutaan Besarnya di Port Moresby kepada Indonesia, negara tetangga Papua Nugini.
Kerusuhan di Papua Nugini bermula setelah sekelompok tentara, polisi, dan sipir melakukan pemogokan karena pemotongan gaji tanpa alasan yang jelas. Unrest ini juga melibatkan warga yang tidak puas dengan pemerintah, yang ikut serta menyerbu toko-toko dengan cara merusak jendela kaca dan melakukan aksi penjarahan.
Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"
Berbagai video menunjukkan kekacauan, dengan gedung-gedung dan mobil terbakar, serta kepulan asap hitam yang mengisi udara. Bahkan, polisi harus menggunakan tembakan untuk membubarkan kelompok penjarah.
Tentu, pertanyaannya adalah bagaimana kondisi ekonomi Papua Nugini saat ini?
Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap
Berdasarkan informasi dari Trading Economics, Papua Nugini memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$31,6 miliar, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang sebesar US$26,11 miliar. Utang pemerintah, sebesar 41,6 persen dari PDB pada 2022, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 51,6 persen dari PDB.
Peluang dan Tantangan di Bumi Pasifik
Bank Dunia melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Papua Nugini sangat terkait dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Dua sektor utama yang mendominasi ekonomi negara ini adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mempekerjakan sebagian besar angkatan kerja, serta sektor ekstraksi mineral dan energi yang menyumbang sebagian besar pendapatan ekspor dan PDB.
Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Papua Nugini sebesar 2,6 persen tahun ini, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan seperti kesulitan dalam mengakses mata uang asing, gangguan pasokan listrik dan air, pembatalan penerbangan domestik, dan masalah di sektor perbankan.
ADB juga melaporkan bahwa kontribusi industri pertambangan mengalami penurunan karena produksi emas yang menurun. Meskipun demikian, sektor-sektor seperti layanan perjalanan internasional, komunikasi, dan real estate menunjukkan ketahanan.
Inisiatif belanja pemerintah dan peningkatan produksi gas alam cair juga memberikan kontribusi positif. Laporan ADB menyebutkan bahwa Papua Nugini memiliki potensi kenaikan signifikan terkait pembukaan kembali Tambang Emas Porgera dan keputusan investasi final untuk LNG Papua yang diharapkan pada awal tahun 2024.
Proyek ini diharapkan dapat merangsang kegiatan ekonomi, meningkatkan pendapatan pajak, dan membantu mengatasi kekurangan devisa.
Potensi Pertumbuhan Papua Nugini: Harapan di Tengah Tantangan
Inisiatif pemerintah dan potensi proyek-proyek besar seperti pembukaan kembali Tambang Emas Porgera dan keputusan investasi final untuk LNG Papua pada awal tahun 2024 memberikan harapan baru.
Meskipun sektor pertambangan mengalami penurunan, proyek-proyek ini diharapkan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan pajak, dan mengatasi kekurangan devisa.
Papua Nugini, meski dihadapkan pada ujian politik dan ekonomi, memiliki potensi untuk bangkit dan mengukir masa depan yang lebih cerah.