Example floating
Example floating
Home

Puluhan Wayang dan Gong Batu dari Era Mataram Kuno Ditemukan

A. Daroini
×

Puluhan Wayang dan Gong Batu dari Era Mataram Kuno Ditemukan

Sebarkan artikel ini
Puluhan Wayang dan Gong Batu dari Era Mataram Kuno Ditemukan

 

 Puluhan gong dan wayang yang terbuat dari batu, ditemukan Tim Expedisi Sukowati dari Yayasan Palapa Mendira Harja Cabang Sragen, Jawa Tengah. Diduga, gong dan wayang dari batu tersebut merupakan peninggalan masa Mataram Kuno.

Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum

Benda-benda yang diduga peninggalan bersejarah ini, ditemukan di Dukuh Jenar RT 1 RW 2 Desa Jenar, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Batu-batu tersebut, awalnya terbengkelai begitu saja dan setelah diteliti ternyata bentuknya memiliki keunikan.

Kades Jenar, Samto mendukung penuh Tim Expedisi Sukowati dari Yayasan Palapa Mendira Harja Cabang Sragen, untuk melestarikan peninggalan sejarah yang ada di desanya. Sebelumnya, warga kurang peduli dengan situs batu-batuan yang ada di lingkungan desanya, meskipun mereka sudah tahu adanya kumpulan batu tersebut.

Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"

“Sudah lama situs batu-batu ini berada di Dusun Jenar. Tapi belum ada yang dikondisikan seperti sekarang. Kalau sekarang batu-batu yang terpencar dikumpulkan, dan ditata dengan baik,” terang Samto.

Dia menyampaikan keberadaan situs tersebut kurang ada perhatian dari warga. Bahkan sebelumnya banyak yang mengambil batu untuk kebutuhan bahan bangunan dan sebagainya. Warga awalnya hanya menganggap batu biasa, namun ternyata berbentuk gamelan dan wayang. “Setelah ini, karena diduga mengandung nilai sejarah, jadi kami ajukan ke pemerintah untuk penanganan selanjutnya,” terangnya.

Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap

Samto menyebutkan, untuk lokasi batu tersebar tidak merata. Ada yang di lahan warga, ada pula yang berada di tanah kas desa. Namun kebanyakan di lahan yang tidak produktif. “Rata-rata itu terkumpul di sekitar 25 meter persegi, ada juga yang sampai 50 meter persegi,” ungkapnya.