Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

20 Prasasti Membuktikan Kabupaten Lamongan,  Dulunya Ibu Kota Kerajaan Airlangga

A. Daroini
×

20 Prasasti Membuktikan Kabupaten Lamongan,  Dulunya Ibu Kota Kerajaan Airlangga

Sebarkan artikel ini
Lamongan Salah Satu Ibukota Kerajaan Airlangga

Lamongan, Memo

Kabupaten Lamongan simpan banyak warisan riwayat penting dari zaman Airlangga. Bahkan juga arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menyangka, ini bisa saja bukti jika Lamongan salah satunya ibu-kota kerajaan Airlangga.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Menurut Dwi, salah satunya sumber penting di periode lalu dan tekstual yang dapat menjadi bukti ialah prasasti. Dia menyebutkan, beberapa prasasti atau situs di kala Airlangga banyak menyebar dan diketemukan di Lamongan, intinya daerah sisi selatan.

Tidak cuma di Lamongan, tambah Dwi, prasasti itu banyak juga menyebar sampai ke Tuban sisi utara. “Di Lamongan sendiri diketemukan lebih dari 20 buah prasasti dari zaman Airlangga, baik itu yang utuh atau yang telah hancur,” tutur Dwi, saat dikonfirmasi, Kamis (26/5/2022).

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Pria yang mengajarkan di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UM ini menyebutkan, beberapa kejadian penting yang terjadi di periode Airlangga juga dapat dicari lewat kehadiran prasasti dan situs yang berada di Lamongan.

Misalkan, penobatan awal Airlangga sebagai raja dalam prasasti Pucangan di Lamongan, lalu saat Airlangga tertekan dan membuat pemerintah dalam pelarian yang dapat diketemukan lewat Situs Candi Patakan di Kecamatan Sambeng yang dipakai oleh Airlangga sebagai Kedatuan.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha, Ketua DPRD Kota Blitar Serukan Semangat Berbagi

“Dari sumber data yang menyebar di segala penjuru Lamongan mulai periode awalnya sampai akhir Airlangga ini jadi panduan awal bila centrum kegiatan Airlangga memungkinkan terjadi di Lamongan, terutamanya Lamongan sisi selatan,” jelas dosen yang salah satunya penulis buku Garudamukha itu.

Argumen yang lain diutarakan Dwi, jejak arkeologis dan arsitektural kehadiran candi ini cukup jadi bukti jika Lamongan ialah satu diantara banyak ibu-kota kerajaan Airlangga. Mustahil juga, lanjut Dwi, kedatuan khusus saat periode keemasan Airlangga, yakni periode Kahuripan berada disekitaran Lamongan selatan.

Tidak cukup itu, Dwi menjelaskan, memungkinkan juga saat Prapanca menulis Arjunawiwaha itu dicatat di Kedatuan Kahuripan yang lokasinya berada di Lamongan sisi selatan. Bahkan juga ibu-kota Kerajaan Jenggala masa awalnya itu diperhitungkan kuat ada di Lamongan, karena penguasa Jenggala ialah generasi penerus dari Airlangga.

“Penentuan Lamongan jadi lokasi Airlangga ini, karena saat itu daerah Lamongan dipandang vital dengan keadaan geografisnya seperti bukit-bukit dan sungai-sungai. Pengkajian geohistori seperti ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pembangunan sekarang ini yang mengambil teladan masa silam,” pungkasnya.

Dalam pada itu, Sejarawan dan Budayawan asal Lamongan Supriyo sampaikan, ada beberapa penemuan tapak jejak riwayat masa lampau sejauh ini yang bisa saja petunjuk jika warga Lamongan benar-benar makmur dan sejahtera.

Selainnya prasasti cane, Supriyo yang memegang sebagai Ketua Lesbumi NU Lamongan ini berbicara, ada pula prasasti Balawi tahun 1227, prasasti Lamongan, prasasti Biluluk dan banyak prasasti-prasasti yang lain yang diketemukan dan beberapa masih disimpan secara baik di Museum Nasional Jakarta.

“Banyak pula diketemukan keramik dari beragam negara yang paling unik dan berharga seni tinggi, seperti vas, piring dari keramik dan yang lain, yang pasti cuma dapat dipunyai oleh orang kaya atau pemuka di periode itu. Ini memperlihatkan warga Lamongan saat itu benar-benar makmur dan sejahtera,” tuturnya.