Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Kediri

Transformasi Revitalisasi Pasar Wates Kediri Jadi Magnet Ekonomi Baru Melalui Wisata Kuliner Malam

A. Daroini
×

Transformasi Revitalisasi Pasar Wates Kediri Jadi Magnet Ekonomi Baru Melalui Wisata Kuliner Malam

Sebarkan artikel ini
BUPATI KEDIRI HANINDHITO HIMAWAN PRAMANA NONGKRONG KULINER MALAM DI PASAR WATES

Kehadiran pemimpin yang akrab disapa Mas Dhito ini bukan sekadar kunjungan kerja formal, melainkan bentuk apresiasi terhadap keberhasilan konsep pasar “hidup” yang mampu berdenyut selama 24 jam penuh. Pasar Wates kini menjadi pionir bagi standar baru pengelolaan pasar di Bumi Panjalu, di mana kenyamanan pengunjung dan kesejahteraan pedagang menjadi prioritas utama.

Alih-alih langsung menuju tempat makan, Mas Dhito memilih untuk menyusuri selasar dan teras pasar guna berinteraksi dengan para pelaku usaha kecil. Dalam dialog santai tersebut, terungkap bahwa langkah revitalisasi yang dilakukan pemerintah daerah membuahkan hasil manis pada kantong para pedagang.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

Pada momen akhir pekan, para penjual kuliner dan angkringan di area ini mampu meraup pendapatan kotor berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.

“Pasar Wates saat ini jauh lebih hidup setelah kita sentuh dengan revitalisasi. Kami melihat sendiri bagaimana perputaran uang di sini meningkat tajam, terutama saat Sabtu dan Minggu,” ujar Mas Dhito di sela-sela kunjungannya.

Selain memantau pendapatan, bupati muda ini juga memberikan edukasi penting mengenai keterbukaan harga. Ia secara konsisten mendorong para pedagang untuk memajang daftar harga yang jelas pada menu maupun gerobak. Hal ini dianggap krusial untuk membangun transparansi dan kepercayaan konsumen, sehingga pengunjung merasa nyaman dan tidak ragu untuk kembali berkunjung.

Salah satu keunggulan utama Pasar Wates pasca-renovasi adalah skema operasional non-stop yang terbagi ke dalam tiga shift. Pola ini memastikan fasilitas pasar tidak pernah menganggur. Dini hari hingga pagi menjadi waktu bagi pedagang sayur mayur, dilanjutkan dengan aktivitas kios dan los di siang hari, dan ditutup dengan semarak wisata kuliner dari sore hingga tengah malam.

Sistem ini ternyata menarik minat pedagang dari luar wilayah Kecamatan Wates, seperti dari Ngancar hingga Pare. Hal ini membuktikan bahwa Pasar Wates telah bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi regional yang inklusif. Mas Dhito memberikan apresiasi dan doa agar seluruh pedagang di setiap shift mendapatkan keberkahan dan kelancaran rezeki atas kerja keras mereka.

Kesuksesan model Pasar Wates dipastikan tidak akan berhenti di satu titik saja. Pemerintah Kabupaten Kediri berencana mereplikasi konsep serupa ke berbagai pasar tradisional lainnya guna meratakan kesejahteraan. Target terdekat adalah Pasar Ngadiluwih yang saat ini tengah dalam proses pembangunan.

“Konsep pasar yang nyaman, bersih, dan berbudaya seperti di Wates ini akan menjadi standar kami ke depan. Kami memohon doa restu dari masyarakat agar pembangunan di lokasi lain, seperti Ngadiluwih, bisa segera rampung dan menyamai kesuksesan yang ada di sini,” tutur Mas Dhito.

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini