Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Kediri

Buntut 211 Siswa Tumbang Usai Makan Telur Bumbu, Satgas Suspend Dapur MBG Kras Kediri di Tengah Silang Pengakuan Soal Laporan Keracunan

A. Daroini
×

Buntut 211 Siswa Tumbang Usai Makan Telur Bumbu, Satgas Suspend Dapur MBG Kras Kediri di Tengah Silang Pengakuan Soal Laporan Keracunan

Sebarkan artikel ini
kasus keracunan MBG di Kras Kediri

Memo, Kediri — Sanksi tegas penutupan sementara (suspend) akhirnya dijatuhkan Satuan Tugas (Satgas) Makanan Bergizi Gratis Kabupaten Kediri terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi, Kecamatan Kras. Langkah drastis ini diambil usai 211 siswa lintas sekolah mendadak terjangkit gangguan pencernaan massal akibat dugaan kasus keracunan MBG di Kras Kediri, di tengah polemik keterlambatan pelaporan yang membuat sampel makanan gagal diuji laboratorium.

Malam kelam pascasantap siang pada Kamis (23/7) berubah menjadi krisis kesehatan massal bagi ratusan pelajar SD, MI, hingga SMP di wilayah Kras. Usai menyantap paket MBG berisi telur rebus berbumbu, tumis wortel buncis, tahu goreng, dan anggur Muscat, gelombang keluhan mual, muntah, perut melilit, hingga diare hebat melanda para siswa. Dampak terparah menghantam SMPN 1 Kras, hingga 117 siswanya tak mampu masuk sekolah pada Jumat (24/7).

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

Kondisi memprihatinkan bahkan masih berlanjut hingga Senin (27/7). Di tengah proses kegiatan belajar mengajar, sejumlah murid bertumbangan di kelas akibat rasa sakit yang tak tertahankan.

“Semua alami keluhan mual, muntah, pusing, perut melilit, mencret,” ujar Kepala SMPN 1 Kras, Soedjito, saat menggambarkan penderitaan anak-anak didiknya di lokasi sekolah, Senin (27/7).

Soedjito membeberkan bahwa serangan pusing dan diare massal tersebut memaksa pihak sekolah memulangkan 18 siswa lebih awal, sementara dua siswa lainnya terbaring lemas dalam perawatan darurat di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Data akumulatif mencatat korban mencapai 211 anak—terdiri dari 117 siswa SMPN 1 Kras, 6 murid SDN Purwodadi, 31 siswa madrasah ibtidaiyah (MI), dan sisanya tersebar di beberapa sekolah lain. Atas eskalasi kasus ini, Satgas MBG Kabupaten Kediri bersama Dinas Kesehatan langsung menghentikan seluruh aktivitas pengolahan makanan di dapur SPPG Purwodadi guna penyelidikan menyeluruh.

Namun, di balik sanksi pembekuan operasional tersebut, tersisa polemik tajam mengenai prosedur penanganan darurat. Pihak penyedia makanan menyayangkan minimnya respons cepat dari pihak sekolah saat gejala pertama kali muncul.

Kepala SPPG Purwodadi Kras, Yadin Syahril, mengungkapkan bahwa pihaknya sama sekali tidak menerima laporan pada hari kejadian. Kabar mengenai belasan hingga ratusan siswa yang tumbang baru diterima timnya pada Jumat (24/7) sekitar pukul 10.00 WIB.

“Kami datang (24/7) karena ingin mengetahui permasalahannya. Sekaligus melakukan langkah sesuai prosedur. Kalau memang sejak awal disampaikan ada dugaan keracunan, kami bisa langsung melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang memang disiapkan,” cetus Yadin Syahril dengan nada kecewa.

Yadin menyesalkan jeda waktu pelaporan yang memakan waktu hingga beberapa hari. Keterlambatan tersebut berakibat fatal: sampel makanan cadangan yang disimpan pihak SPPG akhirnya melewati masa kadaluwarsa pengujian, sehingga kepastian medis apakah bakteri pada menu telur bumbu yang menjadi biang keroknya kini sulit dibuktikan secara ilmiah melalui laboratorium.

Hingga berita ini diturunkan, penghentian operasional SPPG Purwodadi masih berlanjut sembari menunggu investigasi lanjutan dari Dinas Kesehatan dan Satgas MBG Kabupaten Kediri untuk memastikan kelayakan sanitasi dan keamanan pangan ke depan.

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini