Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
KEDIRI RAYA

Tradisi Gropyok Iwak, Pesta Rakyat di Dalam Lumpur, Cara Unik Warga Kediri Sambut Tahun Baru Islam

Avatar
×

Tradisi Gropyok Iwak, Pesta Rakyat di Dalam Lumpur, Cara Unik Warga Kediri Sambut Tahun Baru Islam

Sebarkan artikel ini
Gropyok iwak, Pesta Rakyat di Dalam Lumpur, Cara Unik Warga Kediri Sambut Tahun Baru Islam

Kediri, Memo
Tradisi Gropyok iwak. Pesta Rakyat di Dalam Lumpur, Cara Unik Warga Kediri Sambut Tahun Baru Islam. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, tapi Desa Tanjung, Kecamatan Pagu, sudah dibanjiri semangat. Pada Minggu (6/7/2025), ratusan warga tumpah ruah di aliran air besar yang keruh, bukan untuk mencari nafkah biasa, melainkan merayakan sebuah ritual kuno yang berbalut kegembiraan: Gropyok iwak.

Ini bukan sekadar menangkap ikan, melainkan sebuah simfoni tahunan, penanda Tahun Baru Hijriah (Bulan Suro dalam penanggalan Jawa), yang mengikat erat kebersamaan dan merajut kembali kisah kearifan lokal.

Baca Juga: Terduga Pelaku Arisan Online Kediri Diamankan Polisi Usai Mediasi Alot

Di tengah lumpur yang mengental, terlihat laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak, berbaur dalam satu tujuan. Dengan perkakas sederhana bernama susuk, mereka berlomba-lomba merasakan sensasi berebut ikan, seolah kembali ke masa lalu yang penuh kesederhanaan.

Yono, salah satu peserta, tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya saat berhasil mengangkat seekor ikan kutuk seberat 5 kilogram – sebuah “harta karun” yang akan segera berpindah ke dapur rumahnya.

Baca Juga: Kota Kediri Bidik Tuan Rumah Porprov Jatim 2029 Sport Tourism Kediri Dongkrak Ekonomi Kota

“Ini tadi dapat ikan kutuk, beratnya 5 kilogram, ya seneng bisa ikut melestarikan tradisi tahunan, nanti mau dimasak untuk dimakan bersama keluarga,” ujarnya, menggambarkan kebahagiaan sejati yang terpancar dari sebuah tangkapan sederhana.

Di balik hiruk-pikuk Gropyok iwak, ada makna yang lebih dalam. Rudi Widiyanto, salah satu panitia pelaksana, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian Bersih Desa yang rutin digelar setiap Muharram.

Baca Juga: Pelatihan Penanganan Stroke Tenaga Kesehatan Kediri Tekan Risiko Kematian

Panitia telah menyiapkan sekitar 1 ton ikan dari berbagai jenis—mas, nila, kutuk, hingga patin—yang sengaja dilepas untuk momen ini.

Namun, yang paling mengharukan adalah filosofi di baliknya. “Gropyok iwak ini rutin setiap tahun, nanti ikan yang besar-besar kembali dilepas agar berkembang biak,” terang Rudi. Ini adalah bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan.

Tak hanya itu, setelah acara usai, sumber mata air yang menjadi lokasi Grobyak akan dibersihkan total dan diisi ikan kembali. Tujuannya jelas, “untuk menjaga ekosistem dan keasrian sumber mata air.” Sebuah pelajaran tentang bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan secara harmonis, saling memberi dan menerima.

Tradisi Gropyok iwak di Desa Tanjung adalah cerminan hidup. Di tengah derasnya arus modernisasi, ia tetap berdiri tegak, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tak selalu ditemukan dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan, kebersamaan, dan lestarinya warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia bukan hanya sebuah ritual, melainkan sebuah perayaan kehidupan itu sendiri.