Dengan manfaat yang sebesar itu lebih lanjut dikatakan Sumadi otomatis bisa mengurangi biaya belanja gas elpiji. Apalagi untuk kelompok pelaku usaha UMKM itu sangat membantu.
” TPA Kedungdowo memberi kesempatan seluas luasnya bagi kelompok pengusaha krupuk goreng atau yang sejenisnya bisa menggoreng krupuk menggunakan gas metan yang disediakan di dapur TPA Kedungdowo, ” imbuhnya juga.

Ditanya wartawan bagaimana cara penangkapan gas metana dari tumpukan sampah tersebut beserta teknisnya sehingga bisa dimanfaatkan memasak . Ditegaskan Sumadi dari pertanyaan itu adalah bahan pemaparan dinas untuk masyarakat luas yang mau belajar di TPA Krdungdowo.
” Makanya di dapur TPA Kedungdowo tidak memiliki tabung gas elpiji. Yang ada adalah kompor gas metan. Jadi setiap ada tamu kita sediakan kopi metana atau kacang goreng metana ini sudah paten,” paparnya juga.

Baca Juga: Respect Sosial Spirit AWN Peduli Kaum Marginal, Begini Kiprahnya...
Ngobrol santai di Gasebo zona hijau taman TPA Kedungdowo , Sumadi juga menyebut dua TPS binaan yang dijadikan pilot project dinas lingkungan hidup yang sudah mengimplementasikan secara nyata bahwa sampah bisa menghasilkan cuan juga bisa membuka lapangan pekerjaan.
” Yang kita jadikan pilot project ada di TPS Kartoharjo dan Kedungmlaten Lengkong. Keduanya bisa dijadikan TPS rujukan karena sudah berjalan lama berbisnis mengelola sampah ,” apresiasi Sumadi .

Dalam pantauan wartawan memo.co.id untuk mewujudkan TPA jadi obyek wisata edukasi tampaknya sudah dilakukan pembenahan sarana berupa zona jalan masuk taman wisata. Dan sampai berita ini ditulis masih dalam tahap pengerjaan.
Direncanakan juga oleh dinas seperti disampaikan Sumadi akan merombak gunungan sampah yang sudah ditumbuhi rumput belikar akan disulap jadi gunung teletabis. ( Adi )












