Lamongan, Memo
Pedagang hewan kurban di Lamongan mengeluhkan penjualan lesu di momen mendekati Iduladha. Kondisi ini dipandang dampak dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Beberapa pedagang dan pemilik sapi yang sehatpun, pada akhirnya kesuitan jual sapi sapinya.
Baca Juga: Pemerintah Salurkan Enam Program Bansos Serentak Mulai April 2026
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan, Moh Wahyudi mengerti atas keadaan susah yang menimpa beberapa peternak atau barisan pebisnis sapi di Kabupaten Lamongan.
Oleh karenanya, dia mengharap, beberapa peternak dapat mengendalikan diri dan masih tetap lakukan pengawasan dan perawatan secara extra pada sapi-sapi piaraannya.
Baca Juga: Strategi Efisiensi Energi Pemerintah Lewat Kebijakan WFH ASN Setiap Hari Jumat
“Keadaan saat ini susah, minta bersabar untuk beberapa waktu. Jika nanti keadaan lebih baik, sudah tentu bakal ada pasar hewan yang dibuka,” katanya.
Wabah PMK punya pengaruh besar pada daya jual hewan ternak. Semestinya, keinginan hewan ternak untuk kurban bertambah di peristiwa menjelang Hari Raya Kurban saat ini.
Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos PKH dan BPNT 2026 Terbaru Jelang Pencairan Tahap II April
Realita yang terjadi justru kebalikannya. Beberapa pedagang justru kesusahan jual sapi-sapi mereka, sementara ongkos perawatan jadi membesar.
Keadaan itu ibarat dirasakan Suratman, salah satunya peternak sapi di Lamongan. Ia merencanakan jual 10 sapi kepunyaannya menjelang Iduladha tetapi daya jual sekarang ini justru lemas karena kekuatiran hewan terkena PMK.
“Sekarang ini pasar hewan ditutup, disamping itu masih tetap ada kebimbangan untuk calon konsumen, semua argumennya karena PMK, walau sebenarnya sapi piaraan saya tak ada yang terkena penyakit,” tutur Suratman, Kamis (2/6/2022).
Ia menambah pemasaran sapi sampai masuk bulan Selo (Dzulqa’dah) ini tidak ada kejelasan. Walau sebenarnya, Suratman sempat menarget semua sapinya habis terjual untuk kurban.












