Example floating
Example floating
Infobis

Terimbas Virus PMK Pedagang Hewan Kurban Mengeluh, Penjualan Sapi Sepi

A. Daroini
×

Terimbas Virus PMK Pedagang Hewan Kurban Mengeluh, Penjualan Sapi Sepi

Sebarkan artikel ini
sapi kurban terinveksi virus PMK

Lamongan, Memo

Pedagang hewan kurban di Lamongan mengeluhkan penjualan lesu di momen mendekati Iduladha. Kondisi ini dipandang dampak dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Beberapa pedagang dan pemilik sapi yang sehatpun, pada akhirnya kesuitan jual sapi sapinya.

Baca Juga: Sangat Dinanti Perajin Genting di Lamongan Berharap Kebijakan Gentengisasi Prabowo Hidupkan Industri Lokal yang Hampir Mati Suri

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan, Moh Wahyudi mengerti atas keadaan susah yang menimpa beberapa peternak atau barisan pebisnis sapi di Kabupaten Lamongan.

Oleh karenanya, dia mengharap, beberapa peternak dapat mengendalikan diri dan masih tetap lakukan pengawasan dan perawatan secara extra pada sapi-sapi piaraannya.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Direktur Operasi KAI Lakukan Inspeksi Lintas di Wilayah Daop 7 Madiun

“Keadaan saat ini susah, minta bersabar untuk beberapa waktu. Jika nanti keadaan lebih baik, sudah tentu bakal ada pasar hewan yang dibuka,” katanya.

Wabah PMK punya pengaruh besar pada daya jual hewan ternak. Semestinya, keinginan hewan ternak untuk kurban bertambah di peristiwa menjelang Hari Raya Kurban saat ini.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun

Realita yang terjadi justru kebalikannya. Beberapa pedagang justru kesusahan jual sapi-sapi mereka, sementara ongkos perawatan jadi membesar.

Keadaan itu ibarat dirasakan Suratman, salah satunya peternak sapi di Lamongan. Ia merencanakan jual 10 sapi kepunyaannya menjelang Iduladha tetapi daya jual sekarang ini justru lemas karena kekuatiran hewan terkena PMK.

“Sekarang ini pasar hewan ditutup, disamping itu masih tetap ada kebimbangan untuk calon konsumen, semua argumennya karena PMK, walau sebenarnya sapi piaraan saya tak ada yang terkena penyakit,” tutur Suratman, Kamis (2/6/2022).

Ia menambah pemasaran sapi sampai masuk bulan Selo (Dzulqa’dah) ini tidak ada kejelasan. Walau sebenarnya, Suratman sempat menarget semua sapinya habis terjual untuk kurban.

“Jika diletakkan terus justru ada yang berprasangka buruk terkena penyakit, dan dijajakan keluar belum bisa. Pusing mas,” tegasnya.

Seakan terus dibayang-bayangi pandemi PMK, Suratman cemas sapi ternaknya tidak laku. Efeknya, ia tidak dapat ambil keuntungan dari usaha yang dilaluinya.

Suratman akui telah usaha jual kembali sapinya ke sama-sama pebisnis hewan ternak lain untuk mensiasati rugi. Sayang usaha itu tidak berbuah hasil karena pebisnis sapi lain rasakan kekuatiran yang serupa.

“Kemungkinan beberapa pebisnis sapi yang lain dibayangi hal sama, tidak berani tambah populasi, takut tidak untung, kerena nilai jual sapi nanti juga akan turun mencolok mas, bahkan juga harga dapat di bawah Rp10 juta,” bebernya.

Selanjutnya, keadaan susah saat pandemi PMK ini tidak cuma dirasakan oleh peternak, tetapi juga punya pengaruh pada usaha jagal sapi. Hal tersebut karena tidak ada pemangkasan hewan ternak di Lamongan.

Disamping itu, beberapa pasar hewan yang ada di kabupaten sekitaran Lamongan, seperti Kabupaten Gresik, Jombang, Mojokerto dan Tuban, semua masih ditutup.

“Untuk saat ini ya mau tak mau mengambil daging ke Surabaya, atau memotong sendiri sisa sapi yang ada. Karena di Lamongan tidak ada pemotongan,” kata M. Arif, salah satunya pelaku usaha jagal sapi di Lamongan.