Nurhadi optimistis bahwa kegiatan ini akan mendukung program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di bawah kepemimpinan Presiden RI, Prabowo Subianto. Program ini mendorong pemeriksaan kesehatan secara rutin, bukan hanya pada momen tertentu, sebagai upaya deteksi dini penyakit.
“Kita tahu selama ini ada sejumlah masyarakat yang tiba-tiba jatuh sakit, seperti stroke dan jantung. Penyakit ini datang mendadak, dan tidak disadari lebih dulu karena tidak adanya kegiatan preventif,” ungkap Anggota DPR RI dari Partai NasDem Dapil Jawa Timur ini.
Ia juga menyoroti defisit BPJS Kesehatan yang hampir mencapai Rp10 triliun pada tahun 2024. Salah satu penyebab dominan adalah tingginya pengeluaran untuk tindakan kuratif penyakit seperti jantung, stroke, dan kanker.
“Kita tahu biaya pasang ring jantung saja bisa puluhan juta per orang. BPJS membayar triliunan setiap tahunnya untuk penyakit jantung. Kondisi ini menjadi pemicu kita bahwa gaya hidup sehat dan deteksi dini harus jadi kebiasaan baru pada masa mendatang,” tegasnya.
Baca Juga: Terbukti Korupsi, Kades Pojok Wates Dituntut 7 Tahun Penjara dan Denda Rp600 Juta
Melalui sinergi antara terapis pijat dan program Germas, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat dan deteksi dini dapat meningkat, sehingga menekan angka PTM dan meringankan beban finansial BPJS Kesehatan.












