Mereka juga bergerak dengan cara yang berbeda-beda, seperti bergerak lurus, berputar dalam lingkaran rapat, atau duduk dan menggeliat. Mereka dapat bertahan hingga 60 hari dalam kondisi laboratorium.
Meskipun eksperimen yang dilakukan masih pada tahap awal, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah anthrobot dapat memiliki aplikasi medis. Para peneliti ingin memeriksa apakah anthrobot mampu bergerak di atas neuron manusia yang rusak untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik
Levin dan Gumuskaya menyatakan bahwa penelitian ini memberikan dasar untuk penggunaan bio-bot dalam bidang medis di masa depan. Mereka menyatakan bahwa anthrobot menunjukkan perilaku yang mengejutkan dalam berinteraksi dengan neuron manusia yang rusak, menunjukkan potensi aplikasi yang luas baik di laboratorium maupun pada manusia.
Kedua peneliti juga menegaskan bahwa anthrobot ini tidak menimbulkan masalah etika atau keamanan. Mereka tidak dibuat dari embrio manusia, penelitian yang sangat dibatasi, atau dimodifikasi secara genetik.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu
Selain itu, mereka tinggal dalam lingkungan laboratorium yang sangat terbatas sehingga tidak ada kemungkinan keluar dari lingkungan tersebut.
Levin menambahkan bahwa anthrobot memiliki masa hidup alami sehingga setelah beberapa minggu, mereka akan terurai secara alami dalam lingkungan yang diberikan.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
Anthrobot: Robot Hidup dari Sel Manusia yang Potensial dalam Penyembuhan, Studi dari Tufts dan Harvard Ungkap












