Lebih lanjut, ia meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki akar permasalahan. Salah satunya, dengan memastikan bahwa pengelolaan sampah sudah sesuai dengan standar operasional nasional (SOP).
“Apakah ini sudah sesuai standar operasional. Harus kita evaluasi dan kita harus memberikan solusi,” ujarnya.
Baca Juga: Tak Mau Maju Lagi, Agus Zunaidi Buka Jalan Regenerasi di PPP Kota Blitar
Terkait upaya penghilangan bau di depo sampah, Raihan menilai penggunaan bahan kimia tidak terlalu efektif dan dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Ia mendorong penggunaan ekoenzim sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan melibatkan masyarakat.
“Gerakan ekoenzim merupakan peran pemerintah untuk membentuknya. Insyaallah dapat memangkas 80 persen yang dianggarkan bahan kimia,” tambahnya.
Baca Juga: Regenerasi Menguat, Muscab X PPP Kota Blitar Bidik Lonjakan Kursi 2029
Menurutnya, bahan kimia memang bisa digunakan di depo yang padat, tetapi penggunaannya secara terus-menerus berpotensi mencemari tanah dan air. “Kalau terus menerus, tidak bagus juga,” ungkap Raihan.
Di sisi lain, ia juga meminta agar aktivitas pengangkutan sampah tidak mengganggu aktivitas warga. Ia berharap, jadwal kerja sopir truk sampah tidak bertepatan dengan waktu warga berangkat kerja atau anak-anak pergi ke sekolah.
“Pemerintah Kota Blitar harus membuat rute yang jelas, jangan sampai melewati sekolah dan tempat-tempat yang padat kegiatan, sehingga citra Kota Blitar lebih bagus,” pungkasnya. **












