NGANJUK, MEMO – Ketahuan lauk ikan lele kurang higenis, ribuan paket MBG ( makan bergizi gratis) kiriman dari salah satu dapur umum di wilayah Kecamatan Tanjunganom batal dibagikan ke sekolah. Ada apa ?. Begini penjelasannya.
Fakta itu disampaikan oleh sejumlah nara sumber dari wali murid dan guru di lingkungan Sekolah Dasar Negeri ( SDN), serta ketua yayasan MI dan RA satu atap di Dusun Takat Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom.
Baca Juga: PC Muhammadiyah Kertosono Besok Tunaikan Sholat Ied Di Lima Titik
Kejadian penolakan atau penarikan robuan paket MBG menurut keterangan nara sumber terjadi pada hari Senin pagi ( 8/12/2025) atau sepekan yang lalu.
Informasi itu awalnya diketahui dari grup WhatsApp guru kalau droping MBG pada hari itu ditarik oleh pihak dapur umum. Penarikan dilakukan karena ikan lele goreng diketahui kurang higenis atau masih ada kotoranya,” terang Miftahul Huda selaku ketua yayasan Daya Muda Al Islam di Dusun Takat Desa Kampungbaru.
Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk
Dengan kejadian itu masih kata Miftahul Huda, akhirnya dari pihak dapur umum seketika itu juga membatalkan pengiriman MBG ke 9 sekolah baik SD,MI dan RA di Desa Kampungbaru.
” Total keseluruhan jumlah paket MBG yang didroping setiap hari ke seluruh lembaga sekolah kurang tahu persis jumlahnya. Estimasinya antara 2500 sampai 3000 paket,” jelas Miftahul Huda saat ditemui diruang kerjanya pada hari Senin (15/12/2025).
Baca Juga: SDP Ngudo Roso , 2026 Tahun Tantangan Untuk Desa
Ditanya wartawan pasca kejadian itu apa yang perlu dibenahi dari pihak dapur umum ?. Ditegaskan oleh Miftahul Huda yang terpenting ” control quality ” lauk pauk sebelum dibagikan ke siswa harus benar benar higenis sesuai standar menu bergiz.
” Pengalaman peristiwa keracunan masal jangan sampai terjadi di Nganjuk. Itu gara gara standar kwalitas menu MBG jelek akhirnya siswa jadi korban. Tolong pihak pengawas MBG lebih propesional bekerja mengawasi SOP dapur umum,” harap Miftahul Huda.
Hal senada juga dikatakan YN salah satu tokoh masyarakat di Dusun Takat menilai sepakat dengan pemahaman Miftahul Huda. Harus ada evaluasi rutin ke dapur dapur umum sejauh mana pengelolaan makanan dan kebersihan dapur apakah sudah sesuai standar.
Disinggung pula oleh YN . Jika satu hari itu ribuan paket MBG ditarik seharusnya ada gantinya. Karena pengadaan paket barang berupa makanan bergizi tersebut dibiayai menggunakan uang negara.
” Tapi faktanya, setelah saya mencari tahu dari wali murid dan mendengar pengakuan dari guru guru ternyata di hari itu juga atau dihari berikutnya tidak ada menu pengganti yang sebelumnya ditarik ,” terang YN.
Dikhawatirkan masih kata YN, jika dari pihak dapur umum membuat atau melayangkan surat tagihan ke pemerintah dengan membuat laporan fiktif kalau dalam di Minggu pertama di bulan Desember 2025 telah mengirim paket MBG satu Minggu penuh , maka itu akan menimbulkan kerugian uang negara.
” Yang patut diawasi adalah surat tagihannya. Karena di hari kejadian itu pihak sekolah tidak menerima menu pengganti dari meni sebelumnya yang ditarik. Artinya di hari itu juga dianggap tidak ada kiriman paket MBG. Kalau muncul surat tagihan itu yang perlu ditindak karena menyangkut keselamatan uang negara jangan sampai bocor,’ tandan YN juga.
Dihari yang sama, saat para awak media berupaya melakukan klarifikasi ke dapur umum tapi tidak mendapat keterangan apapun dari pihak dapur umum. Justru saat para awak media ingin menemui pengelola atau kepala dapur umum dibilang oleh salah satu karyawan tidak ada ditempat.
” Saya hanya karyawan bersih bersih Ndak tahu apa apa mas, silahkan tanya pihak mitra saja,” ujar karyawan dapur umum yang tidak diketahui identitasnya. ( Adi)












