Maskapai penerbangan Indonesia kini menunjukkan minat terhadap pesawat buatan China, dan TransNusa menjadi pionir dengan mengakuisisi sejumlah pesawat. Kemitraan ini terwujud melalui penandatanganan perjanjian antara TransNusa dan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), sebuah momen yang disaksikan langsung oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, bersama stafnya.
Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"
Budi menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi ini, menyatakan harapannya bahwa kerjasama ini akan meningkatkan standar pelayanan penerbangan di Indonesia. Dalam pernyataan resmi pada Kamis (11/1), Budi juga mengadvokasi COMAC untuk berinvestasi di industri penerbangan tanah air, menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara Indonesia dan China.
Kunjungan Menteri Perhubungan ke fasilitas produksi pesawat China menunjukkan ketertarikan yang mendalam. Budi Sumadi mengamati dengan seksama detail pekerjaan yang dilakukan oleh COMAC, yang mereka klaim sebagai teknologi penerbangan mutakhir.
Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap
“Saya menekankan pentingnya memastikan produksi pesawat ini fokus pada kualitas yang lebih tinggi, keamanan, efisiensi, dan ramah lingkungan,” tutur Budi.
Budi Karya Sumadi: Memajukan Kualitas Penerbangan Indonesia melalui Kemitraan Global
Pada Desember 2022, TransNusa menciptakan sensasi di dunia penerbangan Indonesia dengan memperoleh 30 pesawat buatan China. Pesanan tersebut melibatkan jenis pesawat penumpang ARJ21-700, mampu mengangkut 78-97 penumpang dengan jangkauan penerbangan sejauh 3.700 km.
Pesawat regional jet ini, diproduksi oleh COMAC, memiliki kapasitas 95 kursi dan mampu terbang selama 3,5 jam.
Bayu Sutanto, Direktur Utama TransNusa, menyatakan bahwa pesawat buatan China tersebut akan dioperasikan untuk melayani rute domestik dan beberapa destinasi di ASEAN, termasuk Kuala Lumpur, Johor Bahru, Kota Kinabalu, dan Singapura.
Dia juga merinci rencana TransNusa untuk mengembangkan rute-rute penerbangan domestik dan internasional dengan menggabungkan pesawat Airbus A320 dan COMAC ARJ21.
Pesawat buatan COMAC, terutama model C919, menjadi sorotan karena dianggap sebagai pesaing potensial bagi Airbus dan Boeing. C919 adalah pesawat jet penumpang China yang memenuhi standar keamanan udara internasional dan memiliki hak kekayaan intelektual independen.
Dengan jangkauan penerbangan mencapai 5.555 kilometer, C919 dianggap sebagai pesaing langsung untuk pesawat berbadan ramping seperti A320 dan B737, yang umumnya digunakan untuk penerbangan domestik dan regional. Pesanan untuk C919 diklaim sudah mencapai lebih dari 1.000 unit.
TransNusa dan Era Baru Penerbangan Indonesia: Komitmen Kuat pada Pesawat China dan Peluang Global
Komitmen TransNusa terhadap pesawat buatan China semakin nyata dengan rencana pengoperasian pesawat ARJ21-700. Direktur Utama TransNusa, Bayu Sutanto, mengungkapkan bahwa kombinasi pesawat Airbus A320 dan COMAC ARJ21 akan menjadi kunci pengembangan rute penerbangan domestik dan internasional.
Meskipun pesawat buatan COMAC, terutama model C919, menimbulkan perbincangan sebagai pesaing potensial Airbus dan Boeing, pesanan yang terus mengalir menandakan kepercayaan besar pada kualitas dan inovasi dari industri penerbangan China.
Kesimpulan ini menggambarkan era baru di mana Indonesia semakin terbuka terhadap kemajuan teknologi penerbangan internasional.