Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Blitar

Sentuhan Hangat di Balik “Jari Api”, Pengobatan Alternatif yang Kian Diminati Warga Blitar

Prawoto Sadewo
×

Sentuhan Hangat di Balik “Jari Api”, Pengobatan Alternatif yang Kian Diminati Warga Blitar

Sebarkan artikel ini
IMG 20260504 WA0000

Blitar, Memo.co.id

Pagi itu, Minggu 3 Mei 2026, Lapangan Cangkring, Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, tak sekadar ramai. Ia berdenyut. Sejak matahari baru menghangatkan rumput, ratusan warga sudah berbaris, membawa satu harapan sederhana: sembuh tanpa harus selalu bergantung pada obat kimia.

Di tengah kerumunan itu, hadir metode pengobatan yang namanya mulai akrab di telinga masyarakat: Totok Saraf Jari Api.

Berbasis di RT 2 RW 1 Dusun Besuk, Desa Ringinanom, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, terapi ini menggabungkan teknik akupresur dengan sentuhan minyak khusus. Bukan sekadar pijatan biasa para terapis menyasar titik-titik saraf tertentu yang dipercaya mampu membantu meredakan berbagai keluhan, mulai dari saraf kejepit, nyeri leher dan bahu, sakit pinggang, hingga keluhan ringan seperti kram, sakit kepala, dan gangguan pencernaan.

Di bawah naungan organisasi Perkumpulan Para Pemijat Penyehatan Indonesia (P-AP3I), para terapis ini tak hanya mengandalkan pengalaman, tapi juga berupaya menjaga standar profesionalisme di dunia pengobatan tradisional.

Suasana di lokasi pun terasa berbeda. Setelah sesi terapi, wajah-wajah yang semula tegang perlahan mencair. Ada yang tersenyum lega, ada pula yang sekadar menarik napas panjang seolah beban yang lama dipikul ikut luruh bersama tekanan jari-jari terapis.

Kegiatan bakti sosial pengobatan gratis ini digelar oleh DPC P-AP3I Kabupaten Blitar berkolaborasi dengan Laskar Peduli Kasih. Tak tanggung-tanggung, puluhan terapis dari berbagai wilayah di Blitar diterjunkan langsung untuk melayani masyarakat sejak pukul 07.00 hingga 11.00 WIB.

Menariknya, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah tokoh senior di bidang pengobatan tradisional mereka yang telah lama mengabdikan diri, menjaga warisan metode penyembuhan berbasis sentuhan.

Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Blitar, Rijanto, turut menambah perhatian publik. Bahkan, ia menyempatkan diri merasakan langsung terapi tersebut.

“Para pemijat ini sangat bagus sekali keterampilannya. Saya merasakan sendiri pijatannya sangat enak,” ujarnya.

Namun di balik apresiasi itu, Rijanto juga mengingatkan pentingnya legalitas. Ia mendorong para terapis segera mengurus Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) sebagai bentuk pengakuan resmi, sekaligus perlindungan bagi praktisi dan masyarakat.

“Pemerintah siap mendampingi,” tambahnya.

Lebih dari sekadar kegiatan sosial, momentum ini menjadi cermin bahwa pengobatan alternatif masih memiliki tempat di hati masyarakat. Di tengah derasnya modernisasi, ada ruang yang tetap hangat tempat di mana sentuhan manusia, kepercayaan, dan harapan bertemu.

Dan di sanalah, “Jari Api” bekerja diam, sederhana, tapi perlahan menghidupkan kembali rasa nyaman yang sempat hilang.