Delapan dekade usia TNI seharusnya menjadi momen perenungan mendalam. Sebab, ironisnya, di tengah kekayaan alam negeri ini, masih banyak prajurit yang setelah purna tugas belum memiliki rumah sendiri. Ribuan lainnya masih tinggal di barak-barak sederhana.
Sementara itu, sebagian oknum jenderal justru sibuk mengurusi bisnis tambang, perkebunan, hingga menjadi beking praktik ilegal. Padahal, amanat Bung Karno sudah jelas: “Setelah merdeka, perjuangan kita bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan bangsamu sendiri — korupsi.”
Baca Juga: Tak Mau Maju Lagi, Agus Zunaidi Buka Jalan Regenerasi di PPP Kota Blitar
Panglima Sudirman dulu pernah melawan Muso dalam pemberontakan PKI Madiun. Kini, tantangan TNI modern jauh lebih kompleks — dari menjaga kedaulatan, membantu swasembada pangan, hingga menghadapi infiltrasi ekonomi dan ideologi asing.
Sudah sepatutnya, para prajurit dan pimpinan TNI di semua tingkatan meneladani kesederhanaan dan integritas Panglima Besar Sudirman.
Baca Juga: Regenerasi Menguat, Muscab X PPP Kota Blitar Bidik Lonjakan Kursi 2029
Bukan hanya “perang bintang” di pundak, melainkan bintang keteladanan dan pengabdian di hati rakyat yang seharusnya lebih diutamakan.
Di usia ke-80 tahun ini, TNI diharapkan terus menjaga kemanunggalan dengan rakyat. Sebab, kekuatan sejati TNI bukan hanya pada senjata dan teknologi, melainkan pada semangat juang dan cinta tanah air yang diwariskan oleh para pendahulunya.
Dirgahayu TNI ke-80!
Teruslah menjadi benteng kedaulatan dan kebanggaan rakyat Indonesia.












