” Rakyat manunggal bersama TNI, Polri dan pemerintah daerah harus tetap dijaga,” ujar Kang Marhaen.
Kalau sudah manunggal masih kata Kang Marhaen maka akan lahir cinta kasih. Buah dari cinta kasih itu sendiri akan melahirkan kondusifitas wilayah.
Hal senada disampaikan Komandan Kodim 0810 Nganjuk, Letkol Arh Mohamad Taufan Yudha Bhakti, mengatakan acara perayaan adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. Jauh lebih penting lagi bagaimana TNI menjalankan tugas dan pokok fungsinya untuk menjaga keutuhan bangsa.

Baca Juga: 6 Tahun Jalan Desa Jeblok, Warga Tempel Nekat Gelar Aksi Tanam Ratusan Pohon Pisang Di Jalan
Sementara itu dikatakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nganjuk, Subani, bahwa kegiatan budaya tersebut selain sebagai sarana edukasi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara pemerintah, TNI, dan masyarakat.
“Kegiatan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga media edukasi dan penyampaian informasi yang efektif bagi masyarakat,” kata Subani
Baca Juga: Kondisi Situs Peradaban Jawa Kuno Di Baron Kurang Terawat, Begini Tanggapan Pemerhati Budaya....
Untuk diketahui , pagelaran wayang kulit kali ini mengambil lakon ” Sang Pamong Agung ” melambangkan sosok pemimpin bijaksana, pelindung dan pengayom rakyat.
Rangkaian Pasar Rakyat HUT TNI ke-80 berlangsung selama sepuluh hari, mulai 10 hingga 19 Oktober 2025 di GOR Bung Karno Nganjuk.
Selain pertunjukan wayang kulit, panitia juga membagikan doorprize dan menggelar kuis berhadiah hasil kerja sama antara Bapenda Nganjuk, Mega Elektronik, dan Prima Swalayan. ( Adi)












