Dalam Kegelapan, Nabi Yunus Mengaku Khilaf dan Fakir pada Allah SWT.
أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain Engkau yaa Allah, sungguh aku telah berbuat zhalim.” (QS. al-Anbiya: 87). Lantas Allah berfirman :
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (QS. al-Anbiya: 88).
Doa tersebut di atas, adalah doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT, saat posisinya berada dalam kegelapan. Dalam doa tersebut, Nabi Yunus memposisikan dirinya sebagai ummat yang mengakui kekhilafannya dan kefakirannya.
Baca Juga: Panduan Ibadah Malam Nisfu Syaban 2026 Lengkap Jadwal Doa dan Amalan Sunnah
Nabi Yunus pernah mengalami saat saat yang gelap. Tiga kegelapan pernah dirasakan Nabi Yunus. Ketiga kegelapan tersebut, diantaranya adalah kegelapan malam hari. Kedua adalah kegelapan dalam samudra dan ketiga adalah kegelapan dalam perut ikan.
Dengan doa doa tersebut, Nabi Yunus menemukan jawaban dari Allah SWT. Allah memberi jawaban berupa dua dan selamat dari marabahaya yang menimpa Yunus alaihissalam. Nabi Yunus selamat dari kegelapan samudera, Nabi Yunus selamat dari kegelapan ketiga di perut ikan.
Satu kunci rahasia dari doa Nabi Yunus adalah mengakui kekhilafan dan kefakirannya pada Allah Ta’ala, ketika bermunajat kepada Allah. Merasa khilaf dan merasa fakit di hadapan Tuhannya. Itulah kunci mengapa do’a Nabi Yunus dikabulkan Allah .
Nabi Zakariya Berdo’a dengan Suara Yang Lembut
Nabi Zakaria memberikan contoh do’a yang paling baik, yaitu berdo’a dengan suara yang lembut. Nabi memberi contoh ketika berdo’a kepada Allah dengan suara yang lirih, melakukannya dnegan khusuk.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda: “Berdoalah kalian dengan penuh keyakinan bahwa doa kalian akan dikabulkan. Dan ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lupa dan lalai (tidak khusyu’, tidak menampakkan rasa butuh kepada Allah).”
Baca Juga: Saat Dentuman "Horeg" Mengusik Ketenangan dan Mengundang Fatwa MUI Jatim
Allah berfirman tentang beliau :
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik. (QS. al-Anbiya: 89).
إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
Dia (Zakaria) berkata, _“Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.” (QS. Maryam: 3-4).Jadi, setelah mengetahui bagaimana para Nabi itu berdoa, sebenarnya apa rahasia terkabulnya doa mereka? Jawabannya adalah seperti yang sudah dicontohkan para Nabi dan disebutkan oleh Allaah Ta’ala.
Dari beberapa contoh do’a para Nabi tersebut, terbesit beberapa rahasia menngapa doa para Nabi terkabulkan doanya kepada Allah SWT. Diantaranya, para Nabi selalu menunjukkan kebutuhannya yang sangat kepada Allah SWT.
Selain itu, setiap kali doa, para nabi selalu mengungkapkan pengakuan dan kuasa Allah serta pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi. Selain itu, juga menunjukkan perihal pengakuan kekhilafannya.
Para nabi juga melakukan doa dengan sepenuh jiwa serta khusuk, dengan berada dalam keadaan yang bahaya dan genting. Karena dengan suasana yang seperti itu, setidaknya memberikan petunjuk tentang tingginya ketulusan para nabi dalam ketulusannya. ( fida )












