Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Peristiwa HukumPolitik Birokrasi

Presiden Joko Widodo Mengembalikan Ratusan Artefak Bersejarah dari Belanda ke Indonesia

Avatar
×

Presiden Joko Widodo Mengembalikan Ratusan Artefak Bersejarah dari Belanda ke Indonesia

Sebarkan artikel ini
Presiden Joko Widodo Mengembalikan Ratusan Artefak Bersejarah dari Belanda ke Indonesia

MEMO, Banda Aceh: Pemerintahan Presiden Joko Widodo berhasil mengembalikan ratusan harta karun artefak bersejarah dari Belanda ke Indonesia.

Langkah ini mendapatkan apresiasi dari sejarawan asal Aceh, Dr. M. Adli Abdullah, yang menekankan pentingnya pengembalian barang-barang bersejarah kepada rakyat Indonesia.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

Proses pengembalian ini menandai upaya Jokowi dalam memulihkan sejarah bangsa dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mempelajari warisan sejarah mereka.

Proses Pengembalian Barang-Barang Bersejarah dari Belanda ke Indonesia

Dr. M. Adli Abdullah, seorang sejarawan asal Aceh, mengungkapkan apresiasi kepada Pemerintahan Presiden Joko Widodo atas pengembalian ratusan harta karun artefak bersejarah dari Belanda ke Indonesia.

“Seharusnya artefak-artefak yang dibawa oleh Belanda dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu rakyat Indonesia, agar dapat disimpan dan dirawat dengan baik di Museum Nasional di Jakarta. Terima kasih kepada Belanda yang telah dengan baik merawat puluhan benda bersejarah,” kata Adli saat dihubungi di Banda Aceh, pada hari Senin.

Ia menjelaskan bahwa proses pengembalian barang-barang bersejarah tersebut dilakukan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, pada hari Senin (10/7). Pemerintah Indonesia diwakili oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Pendidikan Tinggi, Hilmar Farid.

Pentingnya Pengembalian Artefak Bersejarah bagi Generasi Milenial dan Generasi Z di Indonesia

Adli mengingatkan bahwa di era Jokowi, upaya dilakukan untuk mengembalikan barang-barang bersejarah milik anak negeri agar generasi muda Indonesia dapat mengetahui sejarah.

“Ada tiga cara untuk menghancurkan suatu bangsa, yaitu mengaburkan sejarah, menghancurkan bukti-bukti sejarah bangsa tersebut sehingga tidak dapat diteliti dan dibuktikan kebenarannya, serta memutuskan hubungan mereka dengan leluhur mereka dengan mengatakan bahwa leluhur tersebut bodoh dan primitif,” ujar Adli.

Menurutnya, pengembalian ratusan artefak dari nusantara tersebut menjadi pembelajaran bagi masa kini dan masa depan.

“Secara bertahap, barang-barang bersejarah yang diambil oleh Belanda harus dikembalikan ke Indonesia sebagai tanda pengingat bagi generasi milenial, generasi Z, dan sebagainya. Dari Aceh, Belanda telah mengembalikan Pintu Rumah Awe Geutah,” tambahnya.

Adli juga menyampaikan harapannya bahwa benda-benda bersejarah dari seluruh penjuru Ibu Pertiwi dapat dikembalikan pada tahap berikutnya. Ia juga merupakan seorang dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Pengembalian ratusan artefak bersejarah dari Belanda ke Indonesia merupakan langkah penting dalam menjaga warisan sejarah bangsa.

Dalam era pemerintahan Joko Widodo, upaya intens dilakukan untuk mengembalikan barang-barang bersejarah kepada rakyat Indonesia, sehingga generasi milenial dan generasi Z dapat mengenal dan mempelajari sejarah mereka sendiri.

Dukungan dari sejarawan seperti Dr. M. Adli Abdullah menjadi bukti bahwa pengembalian artefak bersejarah ini memberikan pembelajaran berharga bagi masa kini dan masa depan.

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini