Example floating
Example floating
BLITAR

Ngopi Ramadan Jadi Panggung Evaluasi Kritis, Reformasi Struktural Jadi Tuntutan Kota Blitar

Prawoto Sadewo
×

Ngopi Ramadan Jadi Panggung Evaluasi Kritis, Reformasi Struktural Jadi Tuntutan Kota Blitar

Sebarkan artikel ini

Dalam momentum refleksi kepemimpinannya, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin menggelar dialog publik dengan mengundang insan pers dan sejumlah LSM untuk menyampaikan kritik serta masukan terhadap jalannya pemerintahan di Kota Blitar.

Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan capaian selama satu dekade memimpin, termasuk raihan puluhan penghargaan di berbagai sektor yang disebutnya sebagai hasil kerja kolektif, khususnya peran OPD di lingkungan Pemkot Blitar.

Baca Juga: 200 Becak Listrik Bantuan Prabowo Diserahkan ke Warga Blitar

Namun, ia juga menegaskan bahwa lima tahun ke depan akan menjadi tantangan tersendiri akibat kebijakan efisiensi anggaran yang signifikan, sehingga diperlukan sinergi dan gagasan konstruktif untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan kualitas pelayanan publik

Sementara itu, Mohammad Trijanto, praktisi hukum sekaligus pendiri Revolutionary Law Firm. Dalam sesi diskusi, ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan pemerintahan tidak boleh berhenti pada deretan penghargaan.

Baca Juga: Mas Ibin Serahkan 200 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo untuk Pengayuh Becak Blitar

“Kalau refleksi satu tahun hanya dihitung dari jumlah penghargaan, maka yang paling sukses itu lemari kaca kantor karena penuh piala. Publik tidak hidup dari trofi,” ujarnya tegas di hadapan peserta forum.

Menurut Trijanto, puluhan penghargaan yang diraih Pemerintah Kota Blitar memang terlihat impresif di atas kertas. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana capaian tersebut berdampak pada pembenahan sistem tata kelola pemerintahan.

Baca Juga: PUPR Blitar Rampungkan Pembangunan Jembatan Penghubung Banggle–Sawentar yang Ambrol, Sudah Bisa Dilalui Warga

“Tujuh puluh penghargaan terlihat luar biasa. Tapi tanpa reformasi struktural, itu hanya kosmetik birokrasi,” tambahnya.