Sragen, Memo
Bulan lalu , saat musim panen, banyak yang gagal panen. Dua minggu ini, musim tanam. Namun, persediaan pupuk subsidi langka. Tidak ada di toko-toko. Semua toko hanya punya stok pupuk premium alias non subsidi. Terang saja, harganya mahal.
Baca Juga: Sukseskan Program KDMP dan KKMP, Dandim 0809/Kediri Undang Silaturahmi LSM dan Wartawan
Sementara itu, beberapa bulan lalu, pemerintah terus mempersiapkan ketersediaan pupuk subsidi dan mengatur distribusi pupuk bantuan untuk para petani. Hasilnya, sekarang, zong. Pupuk bersubsidi hilang dari peredaran.
Apa yang dilakukan Pemerintah ?. Hingga berita ini ditulis, belum ada sinyal keperpihakan dan perhatian terhadap masalah dan kondisi yang dialami para petani. Regulasi sudah ada. Pada tahap pelaksanannya, tidak ada pupuk bersubsidi yang sudah terdisplai di kios pup[uk dan toko toko pertanian.
Salah satu petani asal Ngamban, Gawan, Tanon, Pardi (55) di Sragen, mengaku bingung karena jatah pupuk petani belum didrop ke kios penyalur resmi. Padahal, saat ini petani sangat butuh untuk memupuk persemaian dan sebentar lagi untuk persiapan tanam. Semua petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi di kios maupun penyalur resmi memasuki musim tanam (MT) pertama ini.
Menurutnya situasi saat ini yang terparah, karena sebelum-sebelumnya setelah panen, di kios-kios sudah ada pupuk. Sementara saat ini yang ada hanya pupuk nonsubsidi dengan harga mencekik yakni Rp 275.000 perzak 50 kg untuk jenis Urea.
“Padahal kalau pupuk subsidi itu Urea perzak itu hanya Rp 95.000. Tapi mau bagaimana lagi, wong di kios penyalur kami tanya katanya belum dibuka karena belum didrop dari nduwuran. Kemarin hanya untuk mupuk benih saja, terpaksa saya belikan Mutiara 10 kg Rp 10.000. Saking nggak ada pupuk sama sekali,” paparnya
Beberapa kalangan mencurigai keberadaan kondisi seperti ini biasanya ada permaiann . Hilangnya pupuk bersubsidi kerap kali memunculkanspekulasi permainan di atas. Memang, kejadian serupa sering kali terjadi.
Mbah Minto, petani lainnya asal Desa Gawan, sangat berharap agar pemerintah segera mendesak distributor untuk mengirimkan jatah pupuk ke penyalur. Sebab saat ini petani sudah sangat menunggu-nunggu.
“Petani itu sebenarnya paling manut. Harga mahal pun nggak papa asal barangnya ada. Lha ini petani sudah kelabakan, jatah masih nggak tahu kapan mau diturunkan. Petani nglakoni rabuk angel lan larang ya nembe kali ini. Wis regane larang barange ra enek. Siapa nggak judeg Mas. Kayak gini kok petani suruh sejahtera,” timpal Mbah Minto Sis. ( ed )












