Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
KEDIRI RAYA

Minat ke SMK Kesehatan Melonjak 30 Persen, Orang Tua Prioritaskan Kesiapan Kerja

Andika Sifaul Muna
×

Minat ke SMK Kesehatan Melonjak 30 Persen, Orang Tua Prioritaskan Kesiapan Kerja

Sebarkan artikel ini
Minat ke SMK Kesehatan Melonjak 30 Persen, Orang Tua Prioritaskan Kesiapan Kerja

Kediri, Memo
Gelombang baru minat terhadap pendidikan kejuruan kesehatan tengah melanda lulusan SMP dan MTs di Kediri. Lonjakan signifikan terlihat pada Penerimaan Siswa Baru (PSB) tahun 2025, di mana Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bhakti Mulia Pare, Kabupaten Kediri, mencatat kenaikan jumlah pendaftar hingga 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan, seiring harapan orang tua yang mendambakan anak-anak mereka memiliki bekal keterampilan konkret untuk langsung terjun ke dunia kerja atau melanjutkan studi dengan fondasi yang kuat.

Baca Juga: Perkemahan Wirakarya Jatim 2026 Hadir di Kediri Pramuka Lakukan Renovasi Tiga Rumah Warga

Imam Hanafi, Kepala SMK Bhakti Mulia, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya atas pencapaian ini. Peningkatan minat, menurutnya, sejalan dengan misi utama sekolah.

“Beberapa bulan lalu kami melakukan kegiatan bakti sosial yaitu tes kesehatan gratis di balai desa sekitar Pare dan juga di Car Free Day (CFD), alhamdulillah masyarakat dapat melihat langsung anak-anak langsung terjun di lapangan melayani pasien masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara riil,” jelas Imam pada Selasa, 8 Juli 2025.

Baca Juga: Vonis Empat Tahun Penjara bagi Penganiaya Balita di Ngronggo Kediri Ini Alasan Hakim

Pengalaman praktik langsung yang ditawarkan sekolah menjadi daya tarik tersendiri, meyakinkan masyarakat akan kualitas lulusannya.

Dukungan kuat datang dari para wali murid. Lukman Priyo Utomo, salah seorang wali murid, menuturkan alasannya menjatuhkan pilihan pada SMK. Baginya, lulusan SMK memiliki bekal lebih mumpuni.

Baca Juga: Aturan Baru Pilkades Kediri 2026 Akomodasi Calon Tunggal Bumbung Kosong Bisa Menang

“Kalau kita sebagai orang tua cuma mendukung saja, kalau di SMK untuk anak lebih berbobot ke depannya jika mau kuliah ataupun mencari kerja,” ujarnya. Lukman optimistis, di tengah ketatnya persaingan, lulusan kejuruan lebih siap untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja saat ini dibanding lulusan SMA umum.

Meski demikian, Imam Hanafi mengakui ada satu hal yang membedakan SMK kesehatan: biaya. Pendidikan di bidang ini cenderung lebih mahal karena kebutuhan akan sarana praktik yang spesifik dan seringkali habis pakai.

“Seperti obat-obatan, bahan salep, minyak aromaterapi, hingga stik pengukur gula darah,” rinci Imam, menggambarkan investasi yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten.

Untuk tahun ajaran 2025 ini, SMK Bhakti Mulia membuka dua rombongan belajar (rombel) untuk jurusan farmasi dan dua rombel untuk jurusan perawat. Namun, dengan tingginya animo, pihak sekolah telah siap untuk memperluas kapasitas. “Jika peminat lebih banyak maka akan diupayakan menambah rombel untuk menampung siswa yang memiliki minat di kejuruan kesehatan,” imbuh Imam.

Kesiapan kerja lulusan SMK Bhakti Mulia bukan isapan jempol. Imam menambahkan bahwa banyak alumni mereka telah berhasil meniti karier di luar negeri, khususnya di Jepang, sebagai caregiver atau perawat lansia. Sebagian lainnya juga sukses menembus apotek dan fasilitas kesehatan lokal, membuktikan bahwa keterampilan yang diperoleh di bangku sekolah adalah kunci pembuka pintu masa depan.