Mentan juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui ekspor dan investasi. Namun, ke depannya, ekspor akan didominasi oleh produk-produk hasil hilirisasi.
Saat Indonesia dilanda El Nino pada tahun 2024, Kementan melakukan refokusing anggaran, mengalihkan Rp1,7 triliun dari perjalanan dinas, seminar, perbaikan gedung, rapat, dan sebagainya, menjadi bantuan bagi petani, berupa benih unggul, pompa, serta alat dan mesin pertanian.
Baca Juga: Indonesia Panen Raya! Surplus Beras 3 Juta Ton, Negara Lain Gigit Jari
Hasilnya, produksi paruh kedua meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tercatat, produksi beras Agustus – Desember 2024 meningkat 1,7 juta ton dibandingkan Agustus – Desember 2025.
Di tempat yang sama, Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, menyatakan komitmen penuh untuk mendukung program swasembada pangan.
Baca Juga: Ironi Negeri Agraris, Saat Lahan Menipis, Petani Berkurang, Pangan pun Jadi Rebutan
Ia menilai Kementan telah membuktikan bahwa efisiensi tidak harus mengorbankan kinerja dan produksi.
“Kementan adalah contoh sukses bahwa efisiensi tidak menyebabkan penurunan kinerja dan produksi. Meski El Nino sempat menyerang, produksi tetap terjaga, bahkan meningkat,” ujar Anindya.
Baca Juga: Curah Hujan Picu Hama Patek, Petani Cabai Jombang Merugi
Ia juga menyoroti perhatian besar pemerintahan Presiden Prabowo terhadap sektor pertanian. Kadin pun berkomitmen untuk mendukung program pemerintah.
“Untuk pertama kalinya ada Wakil Ketua Bidang Pertanian di Kadin, menunjukkan bahwa pertanian menjadi fokus utama Kadin. Kami akan all out, tidak hanya di pusat, tetapi juga di daerah. Kami akan terus menyuarakan bahwa jika pertanian sukses, maka Indonesia sukses,” tegasnya.
Menurut Anindya, perbedaan utama hilirisasi pertanian dibandingkan sektor lain adalah keberlanjutannya.
“Hilirisasi pertanian berbeda dengan sektor lain. Ini adalah warisan bagi anak cucu kita. Pertanian akan terus berkelanjutan,” kata Anindya.












