Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Nganjuk

Menolak Lupa Pertempuran Jembatan Lama Kertosono: Komunitas Nganjuk Desak Pelestarian Jembatan Lama Jadi Cagar Budaya

A. Daroini
×

Menolak Lupa Pertempuran Jembatan Lama Kertosono: Komunitas Nganjuk Desak Pelestarian Jembatan Lama Jadi Cagar Budaya

Sebarkan artikel ini
kembatan lama kertosono nganjuk

Memo, Nganjuk — Pertempuran jembatan lama Kertosono cagar budaya Nganjuk. Dorongan kuat untuk mempertahankan Jembatan Lama Kertosono sebagai situs cagar budaya mengemuka di tengah peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026). Komunitas lokal Nganjuk mendesak pemerintah dan masyarakat agar menjaga struktur peninggalan era kolonial tersebut dari ancaman kerusakan total.

Sertakan dalam aksi peringatan kemerdekaan, gabungan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Nganjuk dan Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk) menggelar upacara bendera serta teatrikal peperangan di lokasi historis tersebut.

Aksi ini diselenggarakan khusus untuk mengedukasi generasi muda tentang jejak perjuangan yang pernah terjadi di atas sungai Kertosono. Dalam adegan teatrikal, digambarkan bagaimana para pejuang lokal dari bawah jembatan sengit bertahan melawan gempuran tentara Belanda dari arah atas.

Perwakilan KOSTI Nganjuk, Endika, menegaskan bahwa penentuan lokasi di struktur kuno tersebut membawa misi penting untuk penyelamatan sejarah lokal. Menurutnya, jembatan tua tersebut memegang peranan krusial dalam peta pertempuran mempertahankan kemerdekaan.

“Ini untuk menghargai sejarah perjuangan bangsa. Sekaligus menanamkan ke generasi muda, agar sadar akan sejarah bangsanya sendiri,” ujar Endika saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Ia menambahkan, pengingat fisik berupa jembatan bersejarah sangat penting agar memori kolektif masyarakat tidak terhapus oleh zaman. “Karena di sini, telah terjadi pertempuran yang sangat menentukan masa depan bangsa,” lanjutnya.

Meskipun saat ini Jembatan Lama Kertosono sudah dinonaktifkan dari arus lalu lintas kendaraan akibat kondisi fisiknya yang makin memprihatinkan, Endika berharap situs bersejarah ini mendapatkan perhatian serius dan status perlindungan resmi sebagai cagar budaya nasional.

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini