Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Menko Perekonomian dan Menhan Bersatu Lawan Ancaman Pantura Jawa

Alfi Fida
×

Menko Perekonomian dan Menhan Bersatu Lawan Ancaman Pantura Jawa

Sebarkan artikel ini
Menko Perekonomian dan Menhan Bersatu Lawan Ancaman Pantura Jawa
Menko Perekonomian dan Menhan Bersatu Lawan Ancaman Pantura Jawa

MEMO

Pulau Jawa, sebagai kontributor utama pada Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, menghadapi tantangan serius terkait erosi, abrasi, dan kenaikan permukaan laut. Dalam laporan kuartal III 2023, permasalahan ini menjadi fokus utama, dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan potensi dampaknya terhadap 50 juta penduduk di daerah Pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Ayahnya, Megawati Pertegas Semangat Merawat Warisan Bung Karno 

Seminar nasional baru-baru ini menyoroti solusi potensial, terutama melalui pembangunan Giant Sea Wall. Inilah konteks krusial untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Pulau Jawa.

Rahasia Mega Proyek Giant Sea Wall

Dalam laporan kinerja ekonomi nasional kuartal III 2023, terungkap bahwa Pulau Jawa memiliki kontribusi signifikan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, mencapai 57,12%. Angka ini menandakan peran penting Pulau Jawa sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi secara geografis.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Meskipun demikian, Pulau Jawa juga dihadapkan pada beberapa tantangan yang melibatkan daya dukung dan daya tampung, seperti ancaman erosi, abrasi, banjir, dan penurunan permukaan tanah di sepanjang Pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Tingkat penurunan permukaan tanah bervariasi antara 1 hingga 25 cm/tahun, sementara kenaikan permukaan air laut mencapai 1 hingga 15 cm/tahun di beberapa lokasi.

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan keprihatinan terhadap dampak ini, terutama di daerah Pantura yang dihuni oleh 50 juta penduduk. Hal ini tidak hanya mengancam ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga kelangsungan hidup masyarakat.