Example floating
Example floating
Home

Masa Depan Manufaktur Indonesia: Peluang Besar di Tengah Tren Reshoring Global

Avatar
×

Masa Depan Manufaktur Indonesia: Peluang Besar di Tengah Tren Reshoring Global

Sebarkan artikel ini

Strategi offshoring membawa dampak besar pada ekonomi domestik, seperti menciptakan jutaan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekspor, dan mempercepat urbanisasi. Sebagai contoh, ekspor tekstil Indonesia melonjak dari USD 7,8 miliar pada 2005 menjadi USD 13,8 miliar pada 2010, menjadikan Indonesia salah satu eksportir terbesar dunia.

Namun, kenaikan biaya tenaga kerja di negara-negara manufaktur utama, termasuk Indonesia, mulai mengurangi daya tariknya. Antara 2015 hingga 2020, biaya tenaga kerja di sektor manufaktur Indonesia meningkat rata-rata 6 persen per tahun, membuat negara ini harus bersaing lebih keras dengan Bangladesh dan Vietnam.

Baca Juga: Langkah Strategis Pemkab Magetan Dorong Sayur Lokal Masuk SPPG Siap Edukasi Petani Agar Sesuai PSAT BGN Demi Tingkatkan Ekonomi Daerah

Negara-negara maju menghadapi tantangan besar akibat offshoring, seperti kehilangan pekerjaan domestik dan meningkatnya ketimpangan pendapatan. Kondisi ini mendorong gelombang reshoring, yaitu kembalinya operasi manufaktur ke negara asal, terutama di Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Tren reshoring ini didorong oleh empat faktor utama:

Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik

  1. Kemajuan Teknologi
    Otomasi dan robotika mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja murah. Amerika Serikat, misalnya, mengadopsi hingga 40.000 unit robot industri pada 2022, jauh di atas Indonesia yang hanya mengadopsi sekitar 1.200 unit.
  2. Kerentanan Rantai Pasok
    Pandemi COVID-19 mengungkap ketergantungan yang berlebihan pada rantai pasok global. Akibatnya, impor AS dari China turun 20 persen pada 2020, sementara Vietnam dan Meksiko memperkuat pangsa pasar mereka.
  3. Proteksionisme
    Kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump mengubah lanskap perdagangan global. Tarif sebesar 25 persen pada barang-barang impor dari China menciptakan tantangan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.
  4. Restrukturisasi Perdagangan Global
    Perubahan signifikan terlihat pada pola perdagangan AS dan Uni Eropa, yang kini lebih banyak melibatkan negara-negara seperti Vietnam, India, dan Brasil sebagai mitra utama.

Peluang dan Tantangan

Restrukturisasi perdagangan ini menawarkan peluang baru bagi Indonesia, seperti diversifikasi ekspor ke pasar nontradisional. Namun, tantangan besar juga menghadang, terutama dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja, infrastruktur logistik, dan kesiapan teknologi.

Rekomendasi Kebijakan

Untuk mengatasi dinamika reshoring ini, Indonesia perlu mengadopsi langkah-langkah strategis:

Baca Juga: Hari Penyoblosan, Ruas Jalan Protokol Situbondo Tampak Lengang

  • Diversifikasi Ekspor: Fokus pada produk bernilai tambah tinggi seperti elektronik dan otomotif.
  • Peningkatan Infrastruktur: Investasi dalam logistik untuk menekan biaya transportasi.
  • Investasi SDM dan Teknologi: Meningkatkan anggaran R&D dan memperluas pelatihan tenaga kerja berbasis teknologi.

Dengan kebijakan yang adaptif, Indonesia dapat memanfaatkan peluang reshoring untuk menjadi pemain utama dalam lanskap manufaktur global yang terus berubah.