Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Ketika Suara Menteri Keuangan Dipalsukan, Bahaya Deepfake Mengancam Kepercayaan Publik

Alfi Fida
×

Ketika Suara Menteri Keuangan Dipalsukan, Bahaya Deepfake Mengancam Kepercayaan Publik

Sebarkan artikel ini
Menkeu: Besi Mudah Dibentuk Ketika Masih Panas

Jakarta, Memo
Sebuah video viral kembali menggemparkan jagat maya. Kali ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi korban dari teknologi deepfake yang berbahaya.

Dalam video yang tersebar luas, ia seolah-olah mengatakan bahwa guru adalah “beban negara,” sebuah pernyataan yang memicu kemarahan publik. Namun, dengan cepat Sri Mulyani membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa video itu adalah hasil manipulasi.

Baca Juga: Ormas 212 dan PSHT Gelar Doa Bersama untuk Korban Pengeroyokan di Loceret Nganjuk

Melalui akun Instagramnya, Sri Mulyani mengklarifikasi bahwa video tersebut adalah potongan yang tidak utuh dari pidatonya di ITB pada 7 Agustus lalu. “Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa Guru sebagai Beban Negara. Video tersebut adalah hasil deepfake,” tegasnya.

Mengapa Deepfake Begitu Berbahaya?

Baca Juga: Ziarah ke Makam Ayahnya, Megawati Pertegas Semangat Merawat Warisan Bung Karno 

Kasus yang menimpa Sri Mulyani ini menjadi pengingat nyata betapa canggih dan berbahayanya teknologi deepfake. Istilah “deepfake” sendiri merupakan gabungan dari “deep-learning” dan “fake,” yang merujuk pada konten tidak nyata yang dibuat dengan algoritma pembelajaran mesin.

Menurut analis senior dari Graphika, Cristina Lopez, deepfake adalah rekaman yang dihasilkan oleh komputer yang dilatih dengan jutaan data. Teknologi ini mampu menciptakan video atau audio yang sangat realistis, seolah-olah menampilkan seseorang mengucapkan atau melakukan sesuatu yang tidak pernah terjadi di dunia nyata.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Bahaya utamanya bukan hanya memanipulasi informasi, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap figur otoritas. Ketika masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, fondasi komunikasi dan informasi yang sehat akan runtuh.

Pernyataan Sri Mulyani yang sebenarnya dalam pidato itu adalah bahwa gaji guru yang “tidak besar” adalah salah satu tantangan bagi keuangan negara. Konteksnya adalah tantangan dalam membiayai sektor pendidikan, bukan merendahkan profesi guru. Namun, manipulasi deepfake mengubah makna aslinya secara drastis, menunjukkan betapa krusialnya literasi digital di era disinformasi ini.