Kediri, Memo |
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri menyatakan bahwa implementasi Uji Klinis terkait Vaksin Tuberkulosis (TBC) belum diterapkan di wilayah administratif mereka. Pernyataan ini muncul di tengah inisiatif Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) yang telah menjalin kolaborasi dengan Yayasan Bill Gates untuk melaksanakan uji klinis vaksin TBC secara nasional.
Saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (14/5/2025), Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr Bambang Triyono Putro, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini masih menunggu arahan kebijakan lebih lanjut dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Mengenai kesiapan, tentu kami harus dalam kondisi siap. Akan tetapi, kami juga terikat untuk mengikuti petunjuk dari Pemerintah Provinsi Jatim, dan hingga saat ini instruksi tersebut belum kami terima,” jelasnya.
Lebih lanjut, terkait dengan data kasus TBC di Kabupaten Kediri, dr Bambang merinci bahwa proyeksi jumlah kasus TBC di wilayahnya mencapai angka 3.800 kasus per tahun. Estimasi ini diperoleh berdasarkan perhitungan tingkat insidensi TBC sebesar 350 kasus per 100.000 penduduk, dengan total populasi di Kabupaten Kediri mencapai 1,6 juta jiwa.
“Jika kita menilik data tahun 2024, kami telah berhasil menemukan sekitar 70 persen dari total proyeksi kasus. Sementara itu, hingga bulan Mei tahun 2025 ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri telah menjangkau sekitar 25 persen dari target,” ungkap dr Bambang.
Dengan demikian, lanjutnya, potensi keberadaan kasus TBC yang belum terdeteksi di tengah masyarakat masih cukup besar. Kondisi ini membuka peluang bagi penyakit menular tersebut untuk menyebar lebih luas di lingkungan masyarakat.
“Oleh karena itu, sebagai langkah antisipatif untuk menekan angka penyebaran TBC, kami secara intensif melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.
Selain upaya preventif melalui edukasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri juga secara berkelanjutan mengadakan kegiatan investigasi atau tracing kasus TBC di berbagai lokasi. Langkah ini dianggap krusial mengingat penyakit TBC dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.
“Dalam upaya penemuan kasus TBC, kami tidak dapat bekerja sendiri. Kami aktif melibatkan berbagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL). Terlebih lagi, penanganan TBC bukan hanya domain dokter spesialis paru, melainkan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran, termasuk dokter bedah dan dokter anak,” pungkasnya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral dalam penanggulangan TBC.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












