“Kami ingin generasi PSHT memahami bahwa menjadi warga bukan sekadar gelar. Itu adalah komitmen moral. Karena itu, kami larang keras konvoi ugal-ugalan. Energi kita seharusnya disalurkan untuk hal-hal positif seperti ini,” tegas Bagas.
Tak hanya keluarga besar PSHT yang merasakan dampaknya. Warga sekitar dan pengurus takmir Masjid Baitunnur pun meresapi nilai kebersamaan yang tercipta malam itu.
Mohammad Badar, pengurus takmir masjid, mengaku terharu dan berterima kasih atas inisiatif para pesilat. “Kehadiran mereka seperti membawa semangat baru. Pembangunan masjid ini sudah lama kami rencanakan, tapi tenaganya terbatas. Mereka datang tanpa diminta, dan langsung bekerja dengan tulus,” ujarnya dengan mata berbinar.
Baca Juga: Resahkan Warga di Bulan Ramadhan, Kafe GPJ Kanigoro Diduga Jadi Ajang Mabuk hingga Dinihari
Baginya, kegiatan ini lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ini adalah pembangunan nilai tentang bagaimana agama, budaya, dan organisasi bisa bersinergi menciptakan harmoni sosial.
Malam pun semakin larut. Satu demi satu karung pasir berpindah tangan, pondasi masjid mulai rata, dan peluh yang mengalir di wajah para pesilat menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih hidup dijaga dan diwariskan dalam diam oleh generasi muda pencinta silat dan nilai-nilai luhur.
Baca Juga: SPPG Sumberingin Berbagi Takjil, 75 Relawan Terima Parsel Lebaran dan Menu Istimewa MBG
Di tengah dunia yang makin individualistik, gerakan sunyi para pesilat PSHT di Blitar malam itu menjadi pengingat: bahwa kekuatan sejati tak hanya terletak pada otot dan jurus, tapi juga pada hati yang rela melayani dan tangan yang mau berbagi.












