Example floating
Example floating
BLITAR

Jelang Disahkan, Ratusan Calon Warga PSHT Cabang Kabupaten Blitar Pilih Uruk Pondasi Masjid daripada Konvoi

Prawoto Sadewo
×

Jelang Disahkan, Ratusan Calon Warga PSHT Cabang Kabupaten Blitar Pilih Uruk Pondasi Masjid daripada Konvoi

Sebarkan artikel ini

Blitar, memo.co.id

Malam itu, udara di Dukuh Sukorejo, Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar terasa berbeda. Di tengah gemuruh cangkul dan suara tawa ringan, ratusan calon warga dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Kabupaten Blitar pimpinan Kang Mas Taufik, bahu-membahu menguruk pondasi Masjid Baitunnur. Mereka bukan sedang berlatih jurus atau unjuk kekuatan, melainkan menjalankan ajaran luhur organisasi: menjadi manusia yang berguna bagi sesama, Jumat 4 Juli 2025.

Baca Juga: Menu MBG Telur Mentah untuk Tiga Hari? Sekolah dan SPPG Saling Bantah, Publik Gerah

 

Dengan mengenakan seragam hitam khas PSHT, para calon warga dan senior dari berbagai rayon kompak membersihkan lingkungan masjid, merapikan area tempat wudhu, hingga mengangkat adukan untuk pembangunan pondasi. Mereka datang tidak hanya dengan tenaga, tetapi juga membawa semangat kebersamaan yang menjadi napas dalam setiap ajaran PSHT.

Baca Juga: Viral! MBG SMPN 4 Blitar Dibagikan Sekaligus dan Berupa Bahan Mentah, Wali Murid Protes

 

“Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tapi bagian dari perjalanan batin dan pembentukan karakter,” tutur Tugas Nanggalo Yudo Dili Prasetiono, Ketua Pengurus Cabang PSHT Kabupaten Blitar, yang akrab disapa Bagas Karangsono. “Ini bentuk pengamalan nilai-nilai PSHT, bahwa silat bukan soal pamer otot atau keahlian bertarung, melainkan tentang bagaimana kita bermanfaat untuk masyarakat.”

Baca Juga: Agung Wicaksono Nahkodai Diskominfotiksan Kabupaten Blitar, Siap Perkuat Komunikasi Publik dan Kemitraan Media

 

Bagas menekankan, kegiatan bhakti sosial seperti ini adalah tradisi yang sudah melekat di tubuh PSHT. Terutama menjelang pengesahan ratusan calon warga baru tahun 2025 ini, kegiatan semacam ini menjadi semacam ‘ritus sosial’ yang memperkuat rasa tanggung jawab dan kepedulian calon pesilat terhadap lingkungannya.