Example floating
Example floating
Birokrasi

Jejak “Para Jendral” di Balik Penyelundupan di Bea Cukai, Ini  Peringatan Keras Eks Kepala PPATK 

A. Daroini
×

Jejak “Para Jendral” di Balik Penyelundupan di Bea Cukai, Ini  Peringatan Keras Eks Kepala PPATK 

Sebarkan artikel ini
Ini  Peringatan Keras Eks Kepala PPATK 

Jakarta, Memo – Sebuah alarm berbunyi kencang dari salah satu mantan penjaga gerbang keuangan negara. Yunus Husein, yang pernah memimpin Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), secara gamblang menyebut adanya “para bintang” sebagai beking di balik praktik penyelundupan di Indonesia.

Frasa “bintang” ini,  merujuk pada perwira tinggi di lingkungan TNI dan Polri, mulai dari brigadir jenderal hingga jenderal bintang empat.

Baca Juga: 24.000 Tamtama Baru di TNI, Dikritik Keras Politisi PDI Perjuangan

Pernyataan ini sontak menjadi sorotan tajam, terutama seiring penunjukan Letnan Jenderal (Purn) Djaka Budi Utama sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang baru, menggarisbawahi tantangan berat yang menanti di garis depan pengawasan perbatasan.

Ketika Aparat Berpangkat Tinggi Berbalik Menjadi Pelindung Kejahatan

Yunus Husein, dengan segudang pengalamannya dalam menelusuri aliran dana haram, tak ragu membuka fakta pahit yang sering tersembunyi ini. Ia mengacu pada tumpukan laporan yang pernah diterima PPATK di masa lalu, namun banyak yang tak kunjung tuntas.

Baca Juga: Di Balik Kabut Isu, Deretan Dugaan Kasus yang Membayangi Jokowi dan Lingkarannya

“Kalau kita lihat kasus-kasus yang dulu kita lihat, pernah terima dari PPATK berapa banyak laporan yang belum terselesaikan, itu kita lihat sebagian ada bekingnya, ada bintang-bintangnya,” tegas Yunus.

Pengungkapan ini bukan sekadar bisik-bisik, melainkan indikasi serius mengenai adanya oknum penegak hukum berpangkat tinggi yang, alih-alih memberantas kejahatan, justru memfasilitasi praktik ilegal.

Baca Juga: Reses M Hadi DPRD Jatim Asal Golkar Temukan Keluhan Warga Atas Kurang Singkronnya Kebijakan Walkot Kediri dengan Kadis

Menurut Yunus, fenomena “beking” ini adalah pola lama yang terus berulang dalam sejarah penyelundupan di Indonesia. Para penyelundup, yang kerap beroperasi di wilayah perbatasan yang sangat rawan, jarang sekali bertindak sendirian.

Mereka membutuhkan perlindungan dan akses dari pihak yang memiliki kekuatan. “Aparat, seringkali yang punya pangkat kuat, yang punya katakanlah beceng atau pasukan,” jelasnya, merujuk pada pengaruh dan kemampuan militer atau kepolisian yang dimiliki oleh perwira tinggi tersebut.

Wilayah perbatasan, seperti yang diungkapkan Yunus, memang menjadi titik krusial bagi masuknya berbagai komoditas ilegal, mulai dari narkotika, senjata, hingga uang hasil tindak pidana, yang mengancam keamanan dan ekonomi negara.

Beban Berat di Pundak Nahkoda Bea Cukai Baru

Peringatan Yunus Husein ini sangat relevan, terutama mengingat transisi kepemimpinan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Letnan Jenderal (Purn) Djaka Budi Utama, yang baru saja dipercaya memegang tongkat komando sebagai Dirjen Bea Cukai, kini memikul beban yang tidak ringan.

Yunus menekankan betapa krusialnya bagi Djaka untuk memiliki keberanian dan ketegasan dalam menindak para penyelundup tanpa pandang bulu, bahkan jika itu berarti harus berhadapan langsung dengan “bintang-bintang” yang selama ini menjadi pelindung mereka.

Yunus Husein secara khusus menyampaikan apresiasinya yang tinggi kepada Djaka Budi Utama. Ia menyoroti keputusan Djaka yang bersedia menerima jabatan direktur jenderal, sebuah posisi yang secara struktural biasanya diduduki oleh pejabat dengan pangkat lebih rendah, yaitu bintang dua (setara Mayor Jenderal atau Laksamana Muda/Marsekal Muda).

Kesediaan seorang perwira tinggi purnawirawan dengan pangkat bintang tiga untuk mengemban tugas ini menunjukkan komitmen yang luar biasa dan dedikasi yang patut diacungi jempol.

“Kita salut sama beliau, pangkat saja dikorbanin, dia mau terima untuk fight di daerah-daerah perbatasan dan wilayah kepabeanan kita terlalu banyak, tidak semuanya diawasi,” tutur Yunus, menggambarkan medan perang yang begitu luas dan penuh tantangan.

Pengorbanan pangkat ini, menurut Yunus, mengindikasikan keseriusan Djaka dalam membersihkan praktik-praktik ilegal di wilayah kepabeanan Indonesia yang memang sangat luas dan seringkali luput dari pengawasan ketat.

Tantangan yang dihadapi Djaka Budi Utama sangatlah besar: bukan hanya mengawasi ribuan kilometer garis pantai dan perbatasan darat, tetapi juga menghadapi jaringan penyelundup yang kuat dan memiliki beking dari oknum aparat.

Peringatan dari Yunus Husein ini diharapkan menjadi momentum bagi Bea Cukai di bawah kepemimpinan baru untuk menunjukkan taringnya, membongkar jaringan penyelundupan hingga ke akar-akarnya, dan memutus rantai beking “bintang-bintang” yang telah lama merusak integritas penegakan hukum di Indonesia.

Keberanian Djaka Budi Utama akan diuji dalam menghadapi tantangan ini, demi terciptanya perbatasan yang bersih dari aktivitas ilegal dan demi kedaulatan ekonomi bangsa.