Blitar, memo.co.id
Kerusakan jalan di wilayah Desa Kedungbanteng, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, tepatnya jalur menuju Pantai Pasur, memantik emosi warga. Jalan yang rusak parah, penuh lubang dan kubangan air, nyaris ditanami pohon pisang sebagai bentuk protes keras masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang tak kunjung tertangani.
Namun, langkah tegas dan komunikatif Kepala Desa Kedungbanteng, Marsaid, berhasil meredam gejolak tersebut. Melalui koordinasi intensif dengan tokoh masyarakat serta komunikasi langsung dengan Bupati Blitar, rencana penanaman kebun pisang di badan jalan akhirnya dibatalkan.
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Penting, Nurhadi Ajak Masyarakat Blitar Rutin Skrining Kesehatan
Marsaid menegaskan, aksi simbolik tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan lain dan justru menimbulkan persoalan baru. Karena itu, ia memilih jalur dialog dan musyawarah.
“Alhamdulillah warga bisa memahami. Saya sampaikan kepada masyarakat bahwa saya sudah berkoordinasi langsung dengan Pak Bupati Blitar. Khusus wilayah Blitar Selatan, pembangunan jalan akan diprioritaskan,” ujar Marsaid saat dihubungi memo.co.id, Selasa 27 Januari 2026.
Baca Juga: Berbagi di Bulan Ramadan, Polsek Sananwetan Bagikan Takjil untuk Pengendara
Menurutnya, keresahan warga adalah hal yang wajar mengingat kondisi jalan yang rusak sudah berlangsung cukup lama dan kerap memicu kecelakaan, terutama saat musim hujan.
“Ini awal tahun, tentu ada regulasi dan tahapan pembangunan yang harus dilalui. Semua ditentukan oleh dinas teknis, dalam hal ini PU. Beberapa ruas jalan lain juga sudah mulai dikerjakan. Kami mohon masyarakat bersabar dan tetap berhati-hati saat melintas, karena banyak lubang dan kubangan yang membahayakan,” imbuhnya.
Baca Juga: BGN Turun Tangan, Puluhan SPPG di Blitar Raya Ditutup Karena Tak Penuhi Standar
Langkah Marsaid dinilai sebagai bentuk kepemimpinan yang responsif. Ia tak hanya menenangkan warga, tetapi juga aktif menyampaikan aspirasi masyarakat ke tingkat kabupaten. Setelah berkoordinasi dengan Bupati Blitar Rijanto, Marsaid langsung menghubungi para tokoh masyarakat untuk menyampaikan hasil komunikasi tersebut, sehingga situasi kembali kondusif.
Sementara itu, Kepala Dinas PeDinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitaraenal, melalui Kabid Pembangunan Hamdan Zulfikri Kurniawan, menjelaskan bahwa kerusakan jalan di wilayah Blitar Selatan sudah masuk dalam pendataan dan kajian teknis.
“Kerusakan jalan, khususnya yang parah, sudah kami petakan. Tahun 2026 ini menjadi agenda prioritas, tentu dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah pasca pemangkasan anggaran dari pusat,” jelas Hamdan.
Ia menambahkan, penentuan ruas jalan yang akan dikerjakan telah melalui kajian teknis dan skala prioritas oleh pihak PU.
Perlu diketahui, kerusakan jalan tak hanya terjadi di Kedungbanteng, tetapi juga di jalur menuju Pantai Pasir mulai Desa Lorejo hingga tembus Bululawang. Kondisi jalan yang berlubang dan tergenang air kerap menyebabkan kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pedagang etek dan pengguna roda dua yang sering tergelincir di kubangan.
Meski sempat memuncak, kemarahan warga akhirnya mereda berkat pendekatan persuasif dan kepemimpinan kepala desa yang mengedepankan komunikasi. Rencana penanaman pohon pisang sebagai bentuk protes pun urung dilakukan, dan masyarakat memilih menunggu realisasi pembangunan jalan sesuai janji pemerintah daerah.
Di tengah jalan yang rusak, setidaknya kepercayaan warga berhasil ditambal oleh kepemimpinan yang mau turun, mendengar, dan bergerak.**












