Salah satu faktor yang berperan dalam hal ini adalah penggunaan ponsel pintar yang tidak terkontrol, yang cenderung membuat penggunanya menjadi malas untuk bergerak. Kementerian Kesehatan telah mengadopsi strategi pencegahan melalui promosi kesehatan serta pengelolaan obesitas dengan mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular.
Promosi kesehatan dilakukan di fasilitas kesehatan primer, seperti Puskesmas, dengan melakukan deteksi dini berupa pengukuran berat badan dan lingkar perut. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk memperbaiki gaya hidup mereka, seperti tidak merokok, meningkatkan aktifitas fisik, serta meningkatkan konsumsi protein, buah, dan sayur.
Baca Juga: Usai Lebaran, Berat Badan Melonjak? Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kebugaran Demi Kesehatan Optimal
Sementara itu, pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular dilakukan melalui penatalaksanaan kasus obesitas yang adekuat, terapi obesitas yang melibatkan diet sehat, latihan fisik, modifikasi perilaku, pendekatan medis, dan rujukan ke ahli terkait. (Sumber: kemkes.go.id)
Strategi Pencegahan Obesitas: Promosi Kesehatan dan Pengendalian Faktor Risiko PTM
Dalam upaya mengatasi obesitas dan menjaga kesehatan, penting bagi setiap individu untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka.
Baca Juga: Jemaah Haji Indonesia Bersiap Pulang, Merangkai Doa dan Harapan Setelah Ibadah di Tanah Suci
Kurangnya aktifitas fisik merupakan faktor utama yang berkontribusi pada kejadian obesitas, seperti yang diungkapkan oleh ahli kesehatan.
Data Riskesdas 2018 juga menunjukkan adanya peningkatan angka obesitas di Indonesia, yang menandakan urgensi dalam mengatasi masalah ini.
Baca Juga: Ahli Gizi Ungkap Bahaya 'Sindrom Nasi Goreng' yang Tak Terduga
Oleh karena itu, strategi pencegahan obesitas melalui promosi kesehatan dan pengendalian faktor risiko PTM menjadi langkah yang sangat penting untuk diimplementasikan guna menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan.












