Namun, ia menyoroti bahwa banyak pemilik sound system sebenarnya kooperatif dan siap mematuhi aturan pemerintah terkait volume, menunjukkan bahwa solusi bisa dicari tanpa harus mematikan mata pencarian mereka.
Filosofi Dakwah Merangkul: Pelajaran dari Gus Iqdam
Inti dari pendekatan dakwah Gus Iqdam terletak pada filosofi merangkul, bukan memukul. Ia secara tegas mengkritik fenomena “tukang maido” atau para pengkritik yang hanya bisa mencemooh tanpa memberikan solusi konkret. Menurutnya, menghujat hanya akan menciptakan jarak dan mendorong individu, terutama generasi muda, pada hal-hal yang lebih merusak.
“Orang Islam adalah orang yang membuat Muslim lain merasa aman dari lisan dan tangannya,” kutip Gus Iqdam dari sebuah hadis Nabi. Prinsip ini menjadi fondasi bagi pendekatannya yang luwes. Ia percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan melalui dialog, bahkan memberikan contoh pengalamannya sendiri dalam menyelesaikan masalah dengan pihak imigrasi melalui komunikasi.
Gus Iqdam secara spesifik menyarankan agar DJ ditempatkan sesuai “SOP”-nya, yaitu di diskotik, bukan di ruang publik yang dapat diakses siapa saja. Ia mengingatkan bahaya sosial jika batasan ini diabaikan, bahkan menceritakan kisah transformatif Pak Roni, mantan pemilik diskotek terbesar di Kediri, yang kini ikut dalam majelisnya berkat pendekatan tanpa paksaan.
Baca Juga: Safari Ramadan NasDem di Blitar, Saan Mustopa Serukan Persatuan di Pusara Bung Karno
“Kita tidak dituntut untuk memaksa seseorang harus baik,” pungkas Gus Iqdam. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki porsi dan perannya masing-masing dalam masyarakat, dan semua elemen, termasuk para pemilik sound system, saling membutuhkan.
Dengan pendekatan yang tenang, saling memahami, dan fokus pada edukasi, Gus Iqdam yakin bahwa fenomena sound horeg ini, pada akhirnya, akan “stut” (tertata) dan membawa berkah, sesuai dengan prinsip rahmatan lil alamin.
Baca Juga: Ngopi Ramadan Jadi Panggung Evaluasi Kritis, Reformasi Struktural Jadi Tuntutan Kota Blitar












