Example floating
Example floating
BLITAR

Gus Iqdam Blitar, Rangkul Fenomena Sound Horeg Lewat Dakwah Persuasif

A. Daroini
×

Gus Iqdam Blitar, Rangkul Fenomena Sound Horeg Lewat Dakwah Persuasif

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo
Fenomena ‘sound horeg’ yang kerap menuai kontroversi, khususnya di kalangan masyarakat religius, kini mendapat sorotan dari perspektif berbeda. Gus Iqdam, ulama muda yang dikenal dengan gaya dakwahnya yang merakyat, justru memilih jalur persuasif alih-alih konfrontasi.

Dalam sebuah pertemuan unik di Markas Sabilul Taubah, ia menyatukan puluhan pemilik dan operator sound system raksasa dari seluruh Jawa Timur, menawarkan sebuah pandangan baru tentang integritas dan dakwah di era modern.

Baca Juga: Pesta Mercon di Tengah Jalan Picu Keributan, Warga Tantang Polisi: “Buka Baju, Sekalian Kelahi!”

Kehadiran jajaran ‘juragan sound’ seperti Mas Brewok dari Brewok Audio, Mas David dari Son Bizat, hingga Mas Hendrik dengan Bufago-nya, lengkap dengan deretan truk pengangkut perangkat audio mereka, bukanlah sekadar ajang pamer.

Gus Iqdam menjelaskan bahwa kebersamaan ini berakar pada tradisi ‘khidmah’ (pengabdian) yang sudah lama terjalin di majelisnya. Para pemilik sound system ini datang secara sukarela, menanggung biaya operasional dan karyawan, semata-mata demi mencari keberkahan. Sebuah fakta yang, menurut Gus Iqdam, sering luput dari perhatian para pengkritik.

Baca Juga: Dari Meja Miras ke Bara Api: Kronologi Pembakaran Toko di Garum

Antara Kebisingan dan Kebiasaan: Mengurai Polemik Sound Horeg

Polemik seputar sound horeg seringkali mengerucut pada isu kebisingan dan asosiasinya dengan praktik negatif, khususnya penggunaan DJ. Gus Iqdam mengakui bahwa ia sendiri pernah menentang keras kehadiran DJ dalam majelisnya. Namun, alih-alih menghakimi, ia memilih jalur komunikasi.

Diskusi panjang dengan operator sound seperti Mbah Jo BJ Hunter, misalnya, bahkan melahirkan ‘kompromi’ dalam bentuk “DJ Syar’i” – sebuah upaya adaptasi untuk menekan dampak negatif.

Baca Juga: PUPR Kabupaten Blitar Siapkan Jalan Aman untuk Pemudik, 14 Titik Kerusakan Jadi Prioritas

“Bukan sekadar suara yang memekakkan telinga,” jelas Gus Iqdam, “tapi juga kebiasaan-kebiasaan destruktif yang sudah menjadi identitas tak terpisahkan dari penggunaan sound horeg.”

Namun, ia menyoroti bahwa banyak pemilik sound system sebenarnya kooperatif dan siap mematuhi aturan pemerintah terkait volume, menunjukkan bahwa solusi bisa dicari tanpa harus mematikan mata pencarian mereka.

Filosofi Dakwah Merangkul: Pelajaran dari Gus Iqdam

Inti dari pendekatan dakwah Gus Iqdam terletak pada filosofi merangkul, bukan memukul. Ia secara tegas mengkritik fenomena “tukang maido” atau para pengkritik yang hanya bisa mencemooh tanpa memberikan solusi konkret. Menurutnya, menghujat hanya akan menciptakan jarak dan mendorong individu, terutama generasi muda, pada hal-hal yang lebih merusak.

“Orang Islam adalah orang yang membuat Muslim lain merasa aman dari lisan dan tangannya,” kutip Gus Iqdam dari sebuah hadis Nabi. Prinsip ini menjadi fondasi bagi pendekatannya yang luwes. Ia percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan melalui dialog, bahkan memberikan contoh pengalamannya sendiri dalam menyelesaikan masalah dengan pihak imigrasi melalui komunikasi.

Gus Iqdam secara spesifik menyarankan agar DJ ditempatkan sesuai “SOP”-nya, yaitu di diskotik, bukan di ruang publik yang dapat diakses siapa saja. Ia mengingatkan bahaya sosial jika batasan ini diabaikan, bahkan menceritakan kisah transformatif Pak Roni, mantan pemilik diskotek terbesar di Kediri, yang kini ikut dalam majelisnya berkat pendekatan tanpa paksaan.

“Kita tidak dituntut untuk memaksa seseorang harus baik,” pungkas Gus Iqdam. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki porsi dan perannya masing-masing dalam masyarakat, dan semua elemen, termasuk para pemilik sound system, saling membutuhkan.

Dengan pendekatan yang tenang, saling memahami, dan fokus pada edukasi, Gus Iqdam yakin bahwa fenomena sound horeg ini, pada akhirnya, akan “stut” (tertata) dan membawa berkah, sesuai dengan prinsip rahmatan lil alamin.