MEMO – Generasi Z kerap mendapat cap sebagai generasi lemah, kurang konsisten, dan mudah menyerah dalam dunia kerja. Namun, Psikiater Aditya Sigit Pramadiyanto menegaskan bahwa penilaian tersebut tidak bisa dilakukan secara sepihak.
“Kita harus melihat lebih dalam, apakah ketidakmampuan Gen Z dalam menghadapi tantangan benar-benar berasal dari diri mereka sendiri, atau justru lingkungan yang kurang mendukung?” ujar Aditya dalam wawancara, Minggu (16/2/2025).
Menurutnya, faktor lingkungan dan sistem kerja yang tidak sesuai ekspektasi turut berkontribusi dalam tekanan yang dialami oleh Gen Z.
Burnout di Tempat Kerja
Aditya menjelaskan bahwa banyak Gen Z merasa pekerjaan yang mereka jalani tidak sesuai dengan ekspektasi dan passion mereka. Ketidaksesuaian ini sering kali berujung pada burnout akibat beban kerja yang terus meningkat.
Generasi Sandwich & Kesadaran Finansial
Salah satu faktor utama yang membuat Gen Z tertekan adalah beban finansial yang diwariskan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya harus memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga menanggung ekonomi keluarga.
Menunda Pernikahan Karena Faktor Ekonomi
Kesadaran finansial yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya juga membuat banyak Gen Z memilih menunda pernikahan. Bagi mereka, membangun keluarga bukan hanya soal tradisi, tetapi juga komitmen ekonomi jangka panjang.
Menurut Aditya, cap negatif terhadap Gen Z bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Semua bergantung pada seberapa besar dukungan lingkungan dalam membantu mereka menghadapi tantangan.
“Setiap generasi pasti dikritik oleh generasi sebelumnya. Namun, membandingkan kondisi kerja dulu dan sekarang itu tidak adil,” tegasnya.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












