Bayangan itu mengatakan kepadanya soal masa depan keraton. Babad tersebut juga menceritakan destinasi selanjutnya Pangeran Diponegoro, yakni Imogiri.
Suatu ketika, Sang pangeran hendak sholat Jumat di Masjid Jumatan. Di sinilah biasanya para juru kunci berkumpul dan beribadah. Begitu melihat Pangeran Diponegoro, yang berbusana layaknya santri sederhana, semua juru kunci memberikan penghormatan.
Menurut Peter Carey, hal ini menandakan betapa para alim ulama keraton mengakui kesalehan Pangeran Diponegoro. Belakangan, mereka juga mendukungnya ketika peperangan terjadi melawan Belanda.
Sesudah dari Parangkusumo, Pangeran Diponegoro memutuskan untuk kembali ke keraton sekitar 1805. Babad Diponegoro mengisahkan alasannya, yakni penampakan Sunan Kalijaga yang memberitahukannya soal awal keruntuhan Tanah Jawa (wiwit bubrahTanah Jawa) pada beberapa tahun mendatang.
Baca Juga: Viral Pemudik Nyasar ke Sawah Sleman Akibat Navigasi Digital Jalur Alternatif Dihapus
Sang Pangeran juga diimbau untuk menggunakan gelar Syekh Ngabdulkamit Erucakra Sayidin Panatagama Kalifatul Rasulullah Senapati Ingalaga Sabilullah. Gelar tersebut terus disandangnya selama perang melawan Belanda berlangsung.
Sejarawan Ricklefs menduga, pemilihan nama ini lantaran Pangeran Diponegoro ingin menghubungkan dirinya dengan Sultan Abdul Hamid I, penguasa Utsmaniyah pada akhir abad ke-18.
Baca Juga: Dari Blitar Berprestasi, Kini Muklisin Buka Babak Baru Kolaborasi di Banyuwangi
Dialah raja Turki pertama yang mengklaim sebagai pelindung politik umat Islam sedunia. Hal ini cukup beralasan bila memperhatikan, para penasihat Pangeran Diponegoro tidak sedikit yang telah berhaji.












