Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Dolar AS Terancam! Negara-negara Ini Tinggalkan ‘Penjajahan’ Greenback

Alfi Fida
×

Dolar AS Terancam! Negara-negara Ini Tinggalkan ‘Penjajahan’ Greenback

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Terancam! Negara-negara Ini Tinggalkan 'Penjajahan' Greenback
Dolar AS Terancam! Negara-negara Ini Tinggalkan 'Penjajahan' Greenback

Sebelumnya, 17 negara telah sepakat menggunakan rupee sebagai alat pembayaran, termasuk Jerman, Inggris, dan Singapura.

China hingga ASEAN: Perubahan Paradigma dalam Perdagangan Internasional

Eropa

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Tren dedolarisasi di Eropa telah ada sejak lama. Data dari Atlantic Council menunjukkan bahwa penggunaan dolar AS di kawasan Eropa hanya sebesar 23,1%, sedangkan euro menjadi mata uang utama yang digunakan dalam perdagangan, ekspor, dan impor, mencapai 66,1%.

ASEAN

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Sepuluh negara anggota ASEAN sepakat untuk mengurangi penggunaan dolar AS dengan melakukan kerja sama transaksi pembayaran lintas batas menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).

Lima negara ASEAN, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina, telah menandatangani kerjasama transaksi pembayaran lintas batas sejak November 2022.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha, Ketua DPRD Kota Blitar Serukan Semangat Berbagi

Kerjasama ini meliputi berbagai aspek seperti kode QR, fast payment, data, RTGS, dan transaksi mata uang lokal. Tiga negara ASEAN lainnya, yaitu Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam, juga menunjukkan minat untuk berpartisipasi dalam kerja sama ini.

BRICS

Negara-negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) semakin serius dalam mempersiapkan penciptaan alat pembayaran baru yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan total dolar atau euro.

Salah satu anggota parlemen Rusia, Alexander Babakov, mengindikasikan bahwa mata uang baru ini akan dijamin dengan emas dan komoditas lain, termasuk unsur tanah jarang. Meskipun rencana ini belum diungkap secara detail, Babakov menyatakan bahwa pembahasan lebih lanjut akan dilakukan pada KTT BRICS Agustus 2023.

Meskipun keinginan untuk menggunakan “mata uang” BRICS telah muncul sejak 2009, implementasinya masih belum terjadi hingga saat ini. Namun, sanksi yang diberlakukan Barat terhadap Rusia telah mendorong Moskow untuk menghidupkan kembali rencana ini pada tahun 2023.

Perubahan Paradigma Ekonomi Global: Dedolarisasi dan Munculnya Mata Uang Lokal

Pada tingkat BRICS, negara-negara ini mengeksplorasi penciptaan alat pembayaran baru yang dapat mengurangi dominasi dolar atau euro dalam perdagangan internasional. Meskipun implementasi masih dalam proses, langkah-langkah konkret telah diambil, seperti kesepakatan bilateral antara India dengan Malaysia dan UEA dalam penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan mereka.

Keseluruhan, dedolarisasi tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga menggambarkan pergeseran kekuatan yang bisa mengubah tata ekonomi global.