Example floating
Example floating
Birokrasi

Dedi Mulyadi Kritik Keras Birokrasi dan Pendidikan Jawa Barat, “Jangan Bodohi Murid”

A. Daroini
×

Dedi Mulyadi Kritik Keras Birokrasi dan Pendidikan Jawa Barat, “Jangan Bodohi Murid”

Sebarkan artikel ini
Dedi Mulyadi Kritik Keras Birokrasi dan Pendidikan Jawa Barat, Jangan Bodohi Murid

BANDUNG, MEMO- Mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi birokrasi dan pendidikan di Jawa Barat. Dalam pertemuan dengan para kepala sekolah SMA dan SMK se-Jawa Barat, ia menyoroti berbagai permasalahan, mulai dari korupsi, mentalitas ASN, hingga sistem pendidikan yang dianggapnya tidak efektif.

“Hari ini banyak anak-anak yang bergaya seperti artis. Orang tuanya, hidupnya, ekonominya sangat miris. Ini penting,” tegas Dedi Mulyadi, mengawali pidatonya, yang kemudian meminta peserta pertemuan untuk tidak ribut dan fokus pada pernyataannya.

Baca Juga: 24.000 Tamtama Baru di TNI, Dikritik Keras Politisi PDI Perjuangan

Dedi Mulyadi menyoroti fenomena korupsi yang menurutnya merajalela, terutama menjelang Ramadan. “Saya melihat seminggu menjelang puasa itu para kepala dinas sembunyi. Bupati sembunyi karena dikejar tim sukses minta THR, Sekda sembunyi. Semua orang depresi. Kenapa depresi? Dia memikirkan bekal THR untuk di rumahnya karena terbatas. Dia nyari duit ke sana kemari untuk memenuhi A B C D. Akhirnya apa? Seperti menjadi siklus kejahatan. Satu sama lain saling memeras,” ungkapnya.

Ia juga mengkritik mentalitas Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dianggapnya hanya fokus pada pekerjaan yang menghasilkan honor. “Ingat, Anda adalah abdi negara, bukan abdi OPD. Karena abdi negara, maka apapun yang dilihat, yang didengar, maka Anda harus bergerak,” tegasnya. Menurutnya, ASN seringkali hanya menjadi “kerumunan” dan bukan “barisan” yang solid.

Baca Juga: Jejak "Para Jendral" di Balik Penyelundupan di Bea Cukai, Ini  Peringatan Keras Eks Kepala PPATK 

Dalam bidang pendidikan, Dedi Mulyadi mengecam penggunaan papan digital (smartboard) yang dianggapnya melahirkan “kemalasan elektrikal” pada siswa. Ia justru mendorong penggunaan kapur tulis yang menurutnya lebih efektif dalam membangun karakter dan kemampuan berpikir siswa. “Justru itu adalah pembentukan karakter manusia Jawa Barat masa depan,” ujarnya.