Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
TRENGGALEK

Asa di Balik Musim Paceklik, Kisah Pasar “Isin” Prigi yang Berubah Menjadi Kemandirian

Hamzah Jurnalis
×

Asa di Balik Musim Paceklik, Kisah Pasar “Isin” Prigi yang Berubah Menjadi Kemandirian

Sebarkan artikel ini
Asa di Balik Musim Paceklik, Kisah Pasar IsinPrigi yang Berubah Menjadi Kemandirian

Trenggalek, Memo
Tersembunyi di balik gemerlap Teluk Prigi yang menawan, ada sebuah kisah kelam dari masa lalu para nelayan, tentang Pasar “Isin” (Pasar Malu). Sebuah pasar darurat yang muncul saat laut tak berpihak, memaksa mereka menjual atau menggadaikan harta benda demi sesuap nasi. Namun, babak suram itu kini telah usai.

Berkat meningkatnya kesadaran finansial dan akses perbankan, kebiasaan memalukan itu berganti dengan semangat menabung dan kemandirian, sebuah potret bangkitnya asa di pesisir Trenggalek.

Baca Juga: Surplus APBD Kabupaten Trenggalek 2025 Capai Delapan Puluh Dua Miliar Inilah Fakta Lengkap

Pasar Isin, yang lokasinya berpindah-pindah di sekitar Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, adalah saksi bisu betapa pahitnya hidup bergantung sepenuhnya pada belas kasih laut.

Jabrin Supriadi, seorang saksi hidup dari masa itu, mengenang bagaimana ketiadaan hasil tangkapan mengikis habis tabungan dan harga diri. “Pasar nelayan ini telah ada sejak dulu. Jika musim paceklik hasil laut, nelayan-nelayan itu menjual barang-barang di rumahnya untuk kebutuhan makan,” kisahnya.

Baca Juga: Aturan Pilkades Trenggalek 2027 Lawan Kotak Kosong Mulai Dibahas

Bukan hanya perhiasan atau barang berharga, namun apa saja yang bisa diuangkan: mulai dari elektronik bekas, peralatan dapur yang sudah usang, hingga kain jarik yang tadinya disimpan rapi. Keterdesakan situasi membuat harga-harga di Pasar Isin anjlok drastis.

Jabrin menyebut, barang-barang itu bisa terjual dengan potongan hingga 25 persen dari harga pasar bekas umumnya. Pasar ini juga unik karena melibatkan makelar yang menjadi perantara transaksi, dan pembelinya pun tak terbatas pada sesama nelayan, melainkan juga warga dari berbagai desa sekitar yang mencari barang murah. Semua demi bertahan hidup di tengah badai ekonomi pribadi.

Baca Juga: DPRD Susun Aturan Satgas Pengawas Koperasi Kecamatan Trenggalek Cegah Kecolongan

Untungnya, cerita kelam Pasar Isin kini telah berakhir. Jabrin memperkirakan, kali terakhir pasar itu beroperasi adalah sekitar tahun 2005. Sejak saat itu, tradisi menjual aset pribadi saat paceklik perlahan pupus. Transformasi ini terjadi karena adanya revolusi kesadaran finansial di kalangan nelayan Prigi. Mereka mulai memahami pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang dan menabung.

Era modern juga membawa kemudahan akses ke lembaga-lembaga keuangan formal. “Sekarang untuk akses pinjam di bank ya mudah. Koperasi nelayan juga ada, dan kesadaran nelayan itu sekarang sudah tinggi akan pentingnya menabung,” tutur Jabrin dengan bangga.

Dari keterpaksaan menjual apa pun yang tersisa, kini nelayan Prigi telah beralih ke strategi yang lebih terencana dan berkelanjutan. Kisah ini bukan hanya tentang masa lalu yang sulit, melainkan juga tentang daya juang dan adaptasi sebuah komunitas, membuktikan bahwa dari sudut kecil Teluk Prigi, kita bisa belajar banyak tentang ketangguhan manusia dalam menghadapi perubahan.