Trenggalek, Memo
Kericuhan terjadi di SMAN 1 Kampak, Trenggalek, ketika sejumlah siswa menggelar aksi unjuk rasa menuntut transparansi dana sekolah, khususnya Program Indonesia Pintar (PIP).
Demonstrasi ini memaksa Kepala Sekolah Bahtiar Kholili dan Bendahara Komite angkat bicara, bahkan Bendahara Komite menyatakan kesiapannya untuk mundur dari jabatan. Aksi yang mengguncang otoritas sekolah ini membongkar dugaan pemotongan dana bantuan pendidikan dan praktik penyimpanan buku tabungan serta ATM siswa.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Bupati Trenggalek Mas Ipin "Tersandra" di Arab Saudi
Pemandangan langka dan berani terlihat di SMAN 1 Kampak. Para siswa, yang seharusnya fokus belajar, justru turun ke jalan menuntut hak-hak mereka. Aksi ini dipicu oleh keluhan yang telah lama terpendam, yakni dugaan praktik pungutan dan pemotongan dana PIP.
Bisri Marzuki, salah satu perwakilan wali murid, bahkan mengisahkan dirinya harus membayar dua kali untuk seragam sekolah, tanpa kuitansi yang jelas, sebuah pengalaman yang mencerminkan kurangnya transparansi administratif.
Baca Juga: Batu Raksasa Setara Truk Longsor dari Tepi Gunung, Tutup Jalur Trenggalek Ponorogo
Maulana Ibrahim, siswa kelas 12, menjadi salah satu wajah dari perjuangan ini. Ia mengaku dari total dana PIP sebesar Rp1,8 juta yang diterimanya, hampir semuanya habis untuk melunasi tunggakan sekolah.












