Example floating
Example floating
BLITAR

Menu Tiwul Picu Penolakan Massal, SPPG Kuningan Kanigoro Dinilai Buang-Buang Duit Negara

Prawoto Sadewo
×

Menu Tiwul Picu Penolakan Massal, SPPG Kuningan Kanigoro Dinilai Buang-Buang Duit Negara

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo.co.id
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak justru berubah menjadi sumber kekecewaan dan kemarahan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, menjadi sasaran kritik tajam setelah menu MBG yang disajikan pada Rabu, 4 Februari 2026, menuai gelombang penolakan dari siswa dan wali murid.

Alih-alih menyajikan menu yang ramah anak, SPPG Kuningan Kanigoro justru membagikan satu porsi nasi tiwul, satu butir telur rebus, satu bungkus keripik tempe, parutan keju, satu kotak susu, serta empat buah anggur. Pemilihan tiwul sebagai pengganti nasi putih inilah yang memantik polemik besar.

Baca Juga: Pelatihan Tunas 3 TIDAR di Blitar, Gerindra Siapkan Pemimpin Muda Menuju 2029

Bagi masyarakat Jawa, tiwul bukan sekadar makanan alternatif. Ia kerap dilekatkan dengan simbol masa sulit, makanan prasejahtera, ketika beras menjadi barang mahal dan langka, terutama di wilayah pegunungan. Lebih dari itu, tiwul jelas bukan menu yang akrab di lidah anak-anak sekolah dasar.

Penolakan pun terjadi secara nyata di lapangan. Contohnya di SD Aisyiyah Jatinom, hampir seluruh siswa menolak memakan menu nasi tiwul tersebut. Fakta ini diungkap langsung oleh Guru Koordinator MBG SD Aisyiyah Jatinom, Endang.

Baca Juga: Ratusan Massa GPI Demo PN Blitar, Soroti Dugaan Rekayasa Hukum

“Pertama kali menerima kami kaget. Lho kok tiwul, ini kaya lansia saja. Ketika dibagikan, ya anak-anak banyak yang nggak suka. Kalau tiwul ya jangan lah, kasihan anak-anak,” ujarnya kepada awak media, Kamis (5/2/2026).

Penolakan tersebut menunjukkan kegagalan serius dalam perencanaan menu. MBG bukan sekadar soal kandungan gizi di atas kertas, tetapi juga soal penerimaan, kebiasaan makan, dan psikologi anak. Tanpa itu, makanan bergizi hanya akan berakhir di tempat sampah.

Baca Juga: Temui Kapolres Blitar Kota, PMII Blitar Bongkar Masalah Kriminalitas hingga Tambang Ilegal

Nada kekecewaan serupa datang dari para orang tua siswa. Mereka menilai menu nasi tiwul sama sekali tidak relevan untuk anak usia sekolah.

“Masa anak SD dikasih tiwul, ya pasti nggak mungkin dimakan. Kalau begini kan jadi mubazir. Beda sama kita yang sudah dewasa. Lek ngene iki, sing doyan yo wong tuwo ne pak (kalau seperti ini, yang makan orang tuanya),” kata Novita, salah satu wali murid.

Kritik bahkan mengarah pada potensi pemborosan anggaran negara. Tujuan utama MBG adalah memastikan asupan gizi anak terpenuhi. Namun ketika makanan ditolak dan tidak dimakan, maka yang terjadi bukan pemenuhan gizi, melainkan anggaran negara yang terbuang sia-sia.

“Saran saya jangan diulangi lagi menu tiwul ini. Percuma, anak-anak sekarang nggak ngerti tiwul, pasti nggak dimakan. Cari menu yang umum saja, supaya nggak buang-buang uang negara,” tegas Sofyan, wali murid lainnya.