Blitar, memo.co.id
Seni dan budaya kembali menjadi medium ampuh dalam menyampaikan pesan moral dan kritik sosial. Hal inilah yang ditunjukkan Ki Sudrun, tokoh spiritual asal Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, melalui dakwah yang dikemas dalam pagelaran wayang kulit.
Pagelaran budaya tersebut digelar dalam forum Jamaah Patekah dan dihadiri sekitar seribu jamaah dari berbagai daerah. Acara yang diprakarsai Kardiyono bersama para penggiat Patekah itu berlangsung khidmat hingga Sabtu, 3 Januari (dini hari) pukul 01.00 WIB, bahkan turut disaksikan Kapolsek Nglegok.
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Penting, Nurhadi Ajak Masyarakat Blitar Rutin Skrining Kesehatan
Puluhan tokoh spiritual, para salik yang tengah menempuh laku batin mencari Tuhannya, para pengusaha, hingga pimpinan pondok pesantren dari berbagai kota larut dalam pagelaran wayang kulit dengan lakon “Noyorono Potong Kaki”. Lakon tersebut sarat pesan keadilan, keberanian moral, dan kritik terhadap lemahnya penegakan hukum.
Dalam dakwahnya, Ki Sudrun menekankan kesadaran spiritual bahwa seluruh gerak manusia sejatinya digerakkan oleh Yang Maha Hidup. Jamaah Patekah diajak untuk menanggalkan kesombongan dan menumbuhkan kesadaran diri.
Baca Juga: Berbagi di Bulan Ramadan, Polsek Sananwetan Bagikan Takjil untuk Pengendara
“Kami ini bukan orang baik. Kami belajar baik supaya bisa hidup lebih baik. Kalau manusia itu bisa bergerak, bicara, dan berbuat, itu karena ada yang menghidupi. Maka apa arti kesombongan?” ujar Ki Sudrun di sela pagelaran.

Baca Juga: BGN Turun Tangan, Puluhan SPPG di Blitar Raya Ditutup Karena Tak Penuhi Standar
Ia juga mengibaratkan jasad manusia sebagai mati sajroning urip—mati di dalam hidup. Ketika badan sejatinya mati, namun bisa hidup, maka ada kuasa yang menggerakkan.
Menariknya, dakwah budaya ini juga sarat nilai nasionalisme. Gema “Jaga Merah Putih” dikumandangkan sebagai simbol kecintaan terhadap Tanah Air. Pekikan Pancasila menggema di tengah pagelaran, yang kemudian ditutup dengan lagu “Syukur” karya Edi Sud.
Ki Sudrun mengemas tokoh-tokoh wayangnya secara kontemporer, menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Wayang tidak lagi sekadar tontonan, namun menjadi tuntunan yang membumi.
Dalam kisahnya, Noyorono digambarkan sebagai putra raja yang bijak, namun tergelincir oleh godaan harta dan melanggar norma hukum. Sang Ratu, sebagai simbol keadilan, tetap menjatuhkan hukuman potong kaki kepada anaknya sendiri.
“Siapapun pewaris kerajaan, kalau melanggar hukum, wajib dihukum. Hukum tidak boleh pilih kasih,” tersirat dalam lakon tersebut.
Ki Sudrun mengaku keprihatinannya terhadap berbagai bencana alam yang melanda Nusantara menjadi latar pesan lakon tersebut. Menurutnya, kerusakan alam terjadi akibat keserakahan manusia, pembabatan hutan, eksploitasi tambang, serta lemahnya penegakan hukum.
“Hukum kita sering tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Alam akhirnya murka,” ungkapnya.
Sementara itu, Kardiyono yang akrab disapa Tonyok, salah satu penggiat Jamaah Patekah, mengatakan bahwa dakwah melalui seni dan budaya jauh lebih mudah diterima masyarakat.
“Dengan dakwah yang dibalut seni dan budaya, pesannya lebih mengena. Kami sudah safari ke berbagai kota di Indonesia bersama Ki Sudrun, dan Alhamdulillah bisa diterima semua kalangan,” jelasnya.
Pagelaran wayang kulit ini menjadi pengingat sunyi namun lantang, bahwa ketika hukum kehilangan ketegasan dan manusia lupa batas, alam tak segan memberi jawaban dalam bentuk bencana.












