Blitar , Memo.co.id
Jalan Sultan Agung, Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar, sejatinya adalah urat nadi penting, gerbang menuju saksi bisu sejarah bangsa, Istana Gebang, rumah masa muda Sang Proklamator. Namun, setiap jelang siang, nadi ini tercekik, berubah menjadi “neraka” kemacetan yang menuntut kesabaran hingga ke titik didih.
Bukan karena perayaan besar atau proyek mendadak, biang keladinya adalah rutinitas sederhana: Jam pulang sekolah MI Perwanida.
Di tengah jalan yang memang sudah sempit, kehadiran ratusan wali murid yang menjemput anak bak air bah yang tumpah tak tertampung. Kendaraan mereka, alih-alih parkir pada tempatnya, justru “parkir liar” di kedua sisi jalan, merampas hak pengguna jalan.
Baca Juga: Respons Cepat Polres Blitar, Arena Judi Sabung Ayam di Bajang Langsung Dibongkar
“Jalanan ini sudah sempit, Mas! Ditambah parkir sembarangan, kayaknya Blitar ini tidak punya aturan main. Setiap hari saya lewat sini rasanya ingin meledak!” – Gendis, seorang pengguna jalan asal Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, meluapkan kejengkelannya dengan nada tajam.
Kemacetan di lokasi ini bukan sekadar urusan parkir semata, melainkan sebuah “perpaduan maut” antara minimnya disiplin dan buruknya tata ruang.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah
Kendaraan orang tua murid yang parkir sembarangan tepat di bahu jalan depan MI Perwanida dipadu dengan fenomena “pasar tumpah mini:. Puluhan pedagang kaki lima (PKL) tanpa izin seenaknya mangkal, menggelar lapak di depan gerbang sekolah, memperburuk penyempitan jalan secara brutal.












