Blitar, Memo
Sebuah fenomena sosial terungkap di dunia pendidikan Kabupaten Blitar. Hingga pertengahan tahun 2025, sebanyak 20 guru sekolah dasar (SD) berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya. Penyebabnya? Penghasilan sang suami dinilai tak sebanding dengan mereka.
Angka ini melonjak drastis dibanding tahun lalu, yang hanya mencatat 15 kasus sepanjang 12 bulan. Artinya, terjadi lonjakan 100 persen hanya dalam setengah tahun, dan ironisnya, mayoritas penggugat adalah guru perempuan.
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Penting, Nurhadi Ajak Masyarakat Blitar Rutin Skrining Kesehatan
“Memang dari data yang kami miliki, hampir semua gugatan cerai ini datang dari guru P3K perempuan. Fenomena ini cukup memprihatinkan,” ujar Deni Setiawan, Kepala Bidang Pengelolaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Rabu (16/7/2025).

Menurut Deni, faktor ekonomi menjadi pemicu utama. Sebagian besar suami para guru tersebut bekerja di sektor non-formal, dengan penghasilan yang lebih rendah dari istrinya. Kondisi ini memicu ketegangan rumah tangga dan akhirnya berujung pada perceraian.
Baca Juga: Berbagi di Bulan Ramadan, Polsek Sananwetan Bagikan Takjil untuk Pengendara
“Artinya, ketika guru P3K itu menggugat cerai dan ternyata suaminya bekerja secara nonformal dengan penghasilan kecil, maka celah konflik rumah tangga makin terbuka lebar,” jelas Deni.
Tak tinggal diam, Dinas Pendidikan mengaku telah berusaha semaksimal mungkin melakukan mediasi, bahkan hingga detik-detik terakhir sebelum izin cerai diajukan.
Baca Juga: BGN Turun Tangan, Puluhan SPPG di Blitar Raya Ditutup Karena Tak Penuhi Standar
“Kami selalu upayakan mediasi. Tapi jika tidak ada titik temu, kami serahkan ke BKPSDM. Setelah itu proses akan berlanjut hingga ke meja Bupati untuk keputusan izin,” tegasnya.
Fenomena ini menjadi alarm serius, tak hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga kondisi sosial rumah tangga para ASN di Blitar. Jika tak ditangani secara komprehensif, bukan tak mungkin angka perceraian ini akan terus melonjak—dan dampaknya bisa meluas ke lingkungan sekolah, hingga psikologis peserta didik. ferdi












