Example floating
Example floating
SURABAYA RAYA

VIRAL! Dua Calon Haji Lansia Bikin Ulah di Asrama Surabaya, Alasan di Luar Dugaan

A. Daroini
×

VIRAL! Dua Calon Haji Lansia Bikin Ulah di Asrama Surabaya, Alasan di Luar Dugaan

Sebarkan artikel ini
VIRAL! Dua Calon Haji Lansia Bikin Ulah di Asrama Surabaya, Alasan di Luar Dugaan

Surabaua, Memo
Atmosfer sakral yang menyelimuti persiapan keberangkatan calon jamaah haji di Embarkasi Surabaya mendadak terusik oleh perilaku tak lazim. Bukan persoalan administrasi yang menghambat, melainkan gejolak batin dua sesepuh asal Jember yang secara tak terduga memilih arah yang berlawanan dengan Tanah Suci: kembali ke kampung halaman.

Kisah pertama terukir pada senja Sabtu (10/5), tatkala seorang hamba Allah berusia senja, Ahmad Sadin (90 tahun), tiba-tiba membelokkan kompas niatnya. Belum lagi kakinya menginjak tangga pesawat, keinginan untuk mudik menyeruak begitu kuat hingga ia menerjang pintu utama asrama. Terobosannya membuat barikade petugas kewalahan, ekspresi wajahnya menggambarkan kerinduan mendalam, dan suaranya lantang menyerukan, “Aku kangen omah! Mulih! Mulih!”

Baca Juga: Surabaya Terapkan Jam Malam Anak Demi Generasi Berakhlak Mulia

Aparat berseragam TNI, Polri, dan petugas keamanan asrama dibuat kelimpungan. Semangat kakek ini seolah mengalahkan usianya, energinya bagai pemuda belia. Meski telah diupayakan penenangan dengan digotong beramai-ramai, kegigihannya tak surut, terus berteriak, bahkan sempat memicu kesiagaan ambulans seolah terjadi situasi genting seorang kepala negara.

Sang pendamping hidup, Jumanti, hanya mampu menggelengkan kepala, air mata tertahan di pelupuk mata. “Waktu awal keberangkatan, beliau tampak bugar, antusias sekali. Sungguh tak disangka, tiba-tiba hasrat pulang begitu kuat. Padahal, penantian untuk berhaji ini sudah selama tiga belas tahun,” tuturnya dengan nada pilu dan kebingungan.

Baca Juga: Jeritan Tak Terbayar Rp100 Ribu, Kisah Pilu KDRT di Surabaya yang Tersorot Kamera

Belum reda keheranan atas insiden pertama, pagi Ahad (11/5) kembali tersaji kejadian serupa. Kali ini datang dari lansia bernama Enjo Endin Parmo (70 tahun), yang akrab disapa Mbah Enjo. Reaksinya tidak histeris, namun alasannya untuk kembali ke Jember memiliki logika yang sederhana namun mengena:

“Lemuku durung dipakani! Lha terus sing ngopeni nek aku wis adoh nang Mekkah?” (Sapi-sapiku belum diberi makan! Lalu siapa yang akan merawatnya kalau aku sudah jauh di Mekkah?), ujar Mbah Enjo dengan kepolosan seorang petani.

Baca Juga: Duka Haji 2025, Embarkasi Surabaya Catat Angka Kematian Tertinggi, 43 Orang, Besuk Datang

Urusan perut dua ekor sapi peliharaannya ternyata memiliki prioritas lebih tinggi ketimbang menaiki burung besi menuju kota suci. Mbah Enjo dengan tekad bulat beranjak keluar dari area poliklinik asrama. Upaya penahanan dari petugas tak mampu menghentikan langkahnya. Tawaran minuman hangat pun tak menggoyahkan tujuannya. Bahkan, nasihat dari seorang ustaz pun tak serta-merta mengalihkan perhatiannya dari nasib ternaknya.

Untungnya, seorang prajurit TNI menunjukkan kesabaran setara seorang pengajar anak usia dini. Dengan pendekatan lembut, ia merangkul Mbah Enjo, mengajaknya berbincang dengan penuh pengertian, hingga akhirnya berhasil meluluhkan hatinya.

“Tenang saja, Pak. Sapinya biar saya yang urus. Nanti saya carikan rumput segar dari Surabaya untuk mereka,” kata sang prajurit dengan nada meyakinkan.

Mendengar jaminan yang menyentuh kalbunya itu, Mbah Enjo akhirnya mengurungkan niatnya. Ia pun kembali ke area poliklinik dengan senyum tipis yang menyiratkan kelegaan, mungkin sembari membayangkan kedua sapinya menikmati santapan rumput dengan lahap.

Kedua lansia yang sempat menciptakan kehebohan di embarkasi ini kemudian mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Tim dokter menduga keduanya menunjukkan indikasi demensia ringan, yang kemungkinan menjadi pemicu perubahan perilaku dan keinginan mendadak untuk kembali ke kampung halaman sebelum menunaikan rukun Islam kelima.