Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Rupiah Melesat! Efek Pernyataan Prabowo & Investasi Jumbo Rp900 Miliar

Avatar
×

Rupiah Melesat! Efek Pernyataan Prabowo & Investasi Jumbo Rp900 Miliar

Sebarkan artikel ini

MEMO – Nilai tukar rupiah akhirnya berhasil menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan, setelah mengalami tekanan selama beberapa hari terakhir. Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah mengalami kenaikan 0,15 persen (24,5 poin), sehingga diperdagangkan di level Rp16.313 per dolar AS.

Menurut Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah adalah sentimen positif dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Presiden mengumumkan bahwa pemerintah akan segera meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada Senin mendatang.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

“Pembentukan BPI Danantara bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan dalam lima tahun ke depan. Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8 persen pada tahun 2029,” jelas Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (21/2/2025).

Pemerintah optimistis bahwa kehadiran BPI Danantara akan mampu menghemat lebih dari 20 miliar dolar AS, yang setara dengan 10 persen dari total pengeluaran tahunan Indonesia.

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Badan ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi nasional dengan cara mengelola dan mengoptimalkan aset-aset strategis negara. Dana yang dikelola diperkirakan mencapai 900 miliar dolar AS, yang akan digunakan untuk investasi besar-besaran di berbagai sektor.

“Dana ini akan dialokasikan ke proyek-proyek besar yang berkelanjutan, seperti pengembangan energi terbarukan, sektor manufaktur, industri hilirisasi, serta produksi pangan,” tambah Ibrahim.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha, Ketua DPRD Kota Blitar Serukan Semangat Berbagi

Di sisi eksternal, kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump kembali menimbulkan kekhawatiran global. Trump mengancam akan memberlakukan tarif 25 persen untuk berbagai komoditas utama, termasuk mobil, farmasi, semikonduktor, dan kayu, yang diperkirakan mulai berlaku pada April 2025.

“Ancaman tarif ini semakin memperkuat ketegangan perdagangan global. Sebelumnya, Trump juga mengancam akan menerapkan tarif timbal balik terhadap mitra dagang utama AS,” ungkap Ibrahim.

Selain itu, situasi geopolitik antara Ukraina dan Rusia semakin memanas setelah Trump secara terbuka menyalahkan Ukraina sebagai pemicu konflik yang telah berlangsung selama tiga tahun. Perundingan damai pun dilakukan tanpa melibatkan Kyiv, yang semakin membuat pemerintah Ukraina berang.

Dari sisi diplomasi, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa Rusia berpotensi mendapatkan keringanan sanksi dari AS. Syaratnya, Rusia harus bersedia berunding untuk mengakhiri konflik dengan Ukraina.

Dengan kombinasi faktor domestik yang positif dan ketegangan global yang masih berlangsung, rupiah masih berpotensi bergerak dinamis dalam beberapa pekan ke depan.